Lansia Berdaya Jadi Tumpuan Keluarga, Ada 5,7 Juta Lansia Jadi Penopang Hidup 11,1 Juta Generasi Milenial dan Z




MADIUN – Pemandangan warga lanjut usia (lansia) yang masih bekerja mencari penghasilan cukup mudah dijumpai. Tak terkecuali di Kota Madiun. Hal itu sudah menjadi fenomena di tanah air. Dihimpun dari kompasdata merujuk data Susenas Maret 2022, tercatat ada 5,7 juta lansia yang masih harus bekerja menopang beban 11,1 juta generasi milenial dan Z. Bahkan, para lansia yang notabenenya berusia di atas 60 tahun itu menanggung dua hingga tiga generasi sekaligus karena hidup bersama dalam satu rumah. Artinya, lansia menanggung hidup anak dan cucunya sekaligus. Hal ini terjadi karena hanya lima persen lansia tersebut yang mempunyai dana pensiun. Di masa tuanya, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hal ini tentu tak sebanding dengan fenomena generasi sandwich. Dimana ada 4,5 juta generasi milenial dan z yang menopang hidup lansia. Artinya, jumlah lansia yang menopang kehidupan generasi milenial dan z jauh lebih banyak.

Dilansir dari rri.co.id, fenomena lansia menanggung beban hidup generasi milenial dan Z ini merupakan sebuah keprihatinan. Bagaimana tidak, lansia yang harusnya menikmati masa tua malah menjadi penopang hidup generasi di bawahnya. Tak heran, hal ini menjadi salah satu tantangan pemerintah Indonesia dalam memanfaatkan momentum bonus demografi di tanah air ke depan.

‘’Sungguh prihatin, kita mau menginjak bonus demografi, seharusnya bisa produktif menganggung generasi (lansia) tidak produktif. Ini kondisi sebaliknya, ada 5,7 juta lansia menanggung 11,1 juta (generasi milenial dan Z),’’ kata Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ivan Lilin Suroyo dikutip dari rri.co.id.

Fenomena ini bisa terjadi untuk masyarakat di perkotaan maupun pedesaan. Namun, biasanya menimpa keluarga-keluarga yang secara ekonomi menengah ke bawah. Lansia ini memiliki beban yang berat karena menjadi penopang tunggal. Beban tersebut harusnya bisa ditanggung bersama-sama. Misalnya dalam satu rumah tangga terdiri bapak dan anak yang saling bergotong-royong.

Di sisi lain, sektor pekerjaan formal yang belum mampu menyerap generasi milenial dan Z dengan baik dinilai menjadi salah satu penyebabnya. Tak heran, generasi Z saat ini, kebanyakan memilih bekerja di sektor informal. Hal itu menjadi kendala ketika pasif income dari bekerja di sektor informal tak menentu. Tak ayal, generasi milenial dan z ini tidak mampu memisahkan diri dari rumah tangga orang tuanya. Otomatis akan bersatu dengan orang tuanya yang sudah masuk lansia tersebut.

Jangan Terus Jadi Beban Orang Tua

Mencari penghasilan mutlak dilakukan generasi milenial maupun z untuk membantu meringankan beban orang tua. Mencari penghasilan ini bisa dari bekerja atau melakukan usaha kecil-kecilan. Ada banyak platform digital yang bisa digunakan untuk menambah penghasilan. Apalagi, jika sudah menikah dan memiliki anak. Istri dan anak merupakan tanggung jawab seorang suami dan bukan tanggung jawab orang tua.

Selain itu, generasi milenial dan z bisa melakukan hobi yang bermanfaat. Generasi milenial dan z memang dikenal generasi yang aktif dalam melakukan hobinya. Hobi tersebut bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan. Misalnya hobi fotografi dengan menjual hasil foto ke platform digital. (ws hendro/agi/madiuntoday)