Poli Jiwa RSUD Kota Madiun Buka Lagi, Sudah Ratusan Pasien Terlayani, Kebanyakan Cari Surat Kesehatan Rohani



MADIUN – Layanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Madiun makin lengkap kini. Setelah layanan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU), RSUD Kota Madiun juga memiliki layanan kejiwaan. Ya, poli jiwa di RSUD Kota Madiun sudah beroperasi kembali sejak pertengahan Desember 2025 lalu. 

‘’Dulu pernah ada, tetapi sempat vakum lama. Sekarang Alhamdulillah ada lagi. Artinya, semua pemeriksaan soal kejiwaan bisa dilakukan di sini, baik pasien umum maupun BPJS,’’ kata Direktur RSUD Kota Madiun dr Muhammad Nur, Rabu (25/2).

Poli jiwa Rumah Sakit Sogaten tersebut resmi beroperasi kembali sejak 15 Desember 2025 lalu. Dari sejak dibuka sudah lebih dari 300 masyarakat yang dilayani. Namun, kebanyakan terkait urusan mencari surat kesehatan rohani. Ya, dengan hadirnya poli jiwa, RSUD Kota Madiun tidak hanya bisa melayani surat kesehatan jasmani. Tetapi juga surat kesehatan rohani. 

‘’Urusan kejiwaan itu tidak berhenti pada orang gangguan jiwa. Tetapi juga seperti susah tidur, tidak bisa mengelola emosi, stress, dan lain sebagainya. Harapannya, masyarakat yang memerlukan layanan kesehatan jiwa bisa terlayani dengan maksimal di RSUD Kota Madiun,’’ harapnya.

Dokter Spesialis Jiwa RSUD Kota Madiun dr Syaiful Anwar menyebut selain urusan mencari surat kesehatan rohani, pasiennya didominasi kasus-kasus kecemasan hingga depresi. Mereka yang berobat datang dari beragam usia. Dari anak-anak hingga dewasa. Dia menyebut urusan kesehatan jiwa baiknya juga harus diberikan perhatian. 

‘’Sebagai langkah pencegahan tidak ada salahnya melakukan skrinning kesehatan jiwa secara berkala,’’ ujarya. 

Pasalnya, mereka yang datang biasanya sudah dalam kondisi gangguan kejiwaan kelompok berat. Padahal, orang dengan gangguan jiwa juga disertai tanda-tanda sebelumnya. Dokter Yang mendasar, lanjutnya, biasanya perubahan perilaku, perbuatan, dan perasaan. Pemeriksaan baiknya segera dilakukan jika yang bersangkutan maupun orang di sekitar mulai terganggu akibat perubahan tersebut. 

‘’Contoh sederhananya, biasanya bisa makan, sekarang tidak bisa. Hal-hal seperti itu kan bisa mengganggu si penderita maupun orang disekitarnya,’’ ungkapnya. 

Dokter Syaiful tak menampik bahwa stigma negatif akan poli jiwa masih cukup melekat. Tak ayal, terkadang masyarakat enggan berobat meski sudah muncul tanda-tanda. Padahal, urusan kesehatan jiwa tidak hanya terkait gangguan kejiwaan. 

‘’Ini merupakan PR besar kita bersama. Harapannya, stigma itu bisa semakin terkikis, dan masyarakat tidak enggan untuk berobat ke poli jiwa,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)