Usai Tembus Nasional, Puluhan Siswa SD/MI Kota Madiun Asah Literasi dan Kepercayaan Diri di Lomba Bertutur



MADIUN – Setelah tahun lalu Deayu Useiko berhasil menorehkan prestasi dengan meraih juara 1 lomba bertutur hingga menembus tingkat nasional, Kota Madiun kembali menggelar Lomba Bertutur tingkat SD/MI yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun. Puluhan siswa tampil penuh percaya diri membawakan cerita rakyat khas Jawa Timur dengan ekspresi dan intonasi yang menarik.

Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun, Wenny Safitri Madona, mengatakan lomba bertutur digelar untuk meningkatkan minat baca dan literasi anak. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi sarana melestarikan cerita rakyat dan budaya lokal.

“Tujannya jelas untuk meningkatkan minat baca dan literasi bagi anak-anak. Yang kedua melestarikan cerita rakyat dan budaya lokal,” ujarnya.

Wenny menambahkan, lomba bertutur juga menjadi sarana pembentukan karakter dan penanaman nilai moral, sekaligus melatih keberanian dan rasa percaya diri anak-anak. Tak hanya itu, lomba tersebut juga dinilai mampu mengembangkan kreativitas dan kemampuan komunikasi peserta. 

Antusiasme peserta tahun ini pun meningkat dibanding tahun sebelumnya. Dari target awal 50 peserta, jumlah pendaftar melebihi target hingga akhirnya 54 siswa mengikuti lomba.

“Dari pendaftar itu luar biasa. Jadi mereka di hari pertama dishare itu langsung banyak yang mendaftar. Artinya keinginan anak-anak untuk membaca itu besar,” katanya.

Kemampuan para peserta tahun ini pun dinilai cukup merata. Bahkan sejak hari pertama hingga hari ketiga pelaksanaan, anak-anak dinilai tampil luar biasa dengan keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi.

Tema cerita yang dibawakan dalam lomba kali ini mengangkat cerita rakyat Jawa Timur agar anak-anak lebih mengenal budaya daerahnya sendiri. 

Ke depan, Dinas Perpustakaan Kota Madiun juga berencana menghadirkan inovasi baru dengan menggelar lomba bertutur untuk ibu balita sebagai bagian dari penguatan budaya membaca di lingkungan keluarga.

“Kami tertarik nanti ada lomba untuk ibu-ibu yang punya anak balita. Karena di golden period itu anak belum bisa membaca sendiri, jadi orang tua yang membacakan cerita. Itu yang akan membentuk karakter anak sejak dini,” tambahnya.

Salah satu peserta, Marcelo da Costa dari SDN 01 Winongo, mengaku senang bisa mengikuti lomba bertutur untuk pertama kalinya. Siswa kelas 5 itu membawakan cerita asal-usul Kampung Winongo dan berlatih selama dua minggu sebelum tampil.

“Kesulitannya biasanya menghafal dan masih blibet, jadi saya latihan setiap hari di rumah dan di sekolah,” ujarnya.

Marcelo mengaku telah berusaha tampil sebaik mungkin dalam lomba tersebut. Ia pun berharap dapat kembali mengikuti ajang serupa di kemudian hari dan meraih prestasi lebih baik.

Sementara itu, pada akhir perlombaan, terpilihlah Athaleeta Zahsy Azzahra dari MIT Bakti Ibu sebagai juara pertama dan akan mewakili Kota Madiun dalam lomba bertutur tingkat provinsi.

(Bip/rat/Madiuntoday)