Menelusuri Tradisi Thudong, Perjalanan Religi Para Biksu Buddha Jelang Waisak



MADIUN - Puluhan biksu berjalan perlahan di bawah terik matahari, menyusuri jalan demi jalan menuju Candi Borobudur. Langkah mereka tenang, tanpa tergesa, membawa satu tujuan yang sama yakni menjalani tradisi thudong menjelang Hari Raya Waisak.

Tradisi thudong merupakan perjalanan spiritual yang dijalani para biksu Buddha dengan berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer. Tahun ini, rombongan biksu berasal dari Thailand, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Indonesia. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan Waisak sekaligus praktik ajaran Buddha yang masih dilestarikan hingga kini.

Borobudur dipilih sebagai tujuan utama karena menjadi salah satu situs suci umat Buddha terbesar di dunia sekaligus pusat perayaan Waisak di Indonesia. Bagi para biksu, perjalanan menuju Borobudur bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga bentuk ziarah dan pendalaman spiritual melalui meditasi, kesederhanaan, serta pengendalian diri selama perjalanan.

Dikutip dari berbagai sumber, thudong menjadi sarana melatih kesabaran dan keteguhan hati. Dalam perjalanan, para biksu hidup sederhana, makan hanya sekali sehari sebelum tengah hari, serta beristirahat di tempat seadanya. Kondisi tersebut menjadi bagian dari praktik ajaran Buddha yang dijalani selama perjalanan.

Di sepanjang perjalanan, sambutan hangat datang dari masyarakat. Warga dari berbagai daerah terlihat menyediakan makanan, minuman, hingga membantu pengawalan perjalanan. Tidak sedikit masyarakat non-Buddha ikut menyambut rombongan thudong sebagai bentuk penghormatan dan dukungan terhadap perjalanan spiritual tersebut.

Secara historis, thudong berasal dari istilah Pali “dhutanga” yang berarti latihan keras atau pertapaan. Tradisi ini diyakini telah dijalankan sejak masa Buddha Gautama sebagai bagian dari latihan spiritual untuk mendekatkan diri pada alam dan mencapai ketenangan batin. Hingga kini, tradisi tersebut tetap bertahan dan menjadi simbol kesabaran, kedamaian, serta harmoni dalam perayaan Waisak.

(ws hendro/kus/madiuntoday)