Merawat Warisan Kota Pendekar, Plt Wali Kota Napak Tilas Rumah Eyang Suro dalam Tradisi Suroan SH Panti 1903
MADIUN - Tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad kembali menghidupkan nuansa khidmat di Kota Madiun. Peringatan Suran SH Panti 1903 ke-127 tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga momentum untuk menelusuri jejak sejarah lahirnya ajaran Setia Hati sekaligus merawat identitas Kota Madiun sebagai Kota Pendekar.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengikuti rangkaian kegiatan Suran SH Panti 1903, Sabtu (27/6) malam. Kegiatan diawali dengan doa bersama, menikmati bubur suro, kemudian dilanjutkan napak tilas ke rumah Ki Ngabehi Surodiwiryo atau Eyang Suro, pendiri ajaran Setia Hati, yang berada di Jalan Gajah Mada Nomor 41, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo.
Dalam kesempatan tersebut, Plt Wali Kota berkeliling melihat sejumlah ruangan bersejarah, mulai dari ruang tamu, kamar, hingga koleksi foto dokumentasi yang merekam perjalanan SH Panti 1903 sejak awal berdiri. Melalui kegiatan itu, dirinya juga mempelajari silsilah, budaya, serta nilai-nilai persaudaraan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurutnya, usia 127 tahun menjadi bukti bahwa SH Panti 1903 memiliki perjalanan panjang yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kota Madiun. Bahkan, organisasi tersebut telah berdiri lebih dahulu sebelum Kota Madiun terbentuk sehingga menjadi bagian penting dari identitas daerah.
“Usia 127 tahun ini membuktikan konsistensi SH Panti 1903. Bahkan sebelum Kota Madiun berdiri, SH Panti sudah lahir dan membersamai perjalanan kota ini. Harapannya, ke depan organisasi ini terus memberikan kontribusi positif serta ikut menjaga keamanan dan ketertiban di Kota Madiun,” ujarnya.
Ia menilai, mengikuti rangkaian Suran bukan sekadar menghadiri tradisi tahunan, melainkan kesempatan untuk memahami akar sejarah, adat istiadat, dan filosofi ajaran Setia Hati yang telah berkembang di tengah masyarakat selama lebih dari satu abad.
Menurutnya, warisan sejarah tersebut perlu terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Semangat persaudaraan yang menjadi ruh ajaran Setia Hati juga diharapkan terus memperkuat jati diri Kota Madiun sebagai Kota Pendekar.
Pemerintah Kota Madiun, lanjutnya, mendukung berbagai kegiatan organisasi kemasyarakatan yang mengedepankan pelestarian budaya, persatuan, dan kondusivitas sehingga keberadaannya dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat serta pembangunan daerah.
Ki Ngabehi Surodiwiryo merupakan tokoh yang menggagas lahirnya ajaran Setia Hati pada 1903. Dari rumahnya di Jalan Gajah Mada Nomor 41, Kelurahan Winongo, ajaran yang menekankan nilai persaudaraan, budi pekerti, dan pembinaan karakter tersebut mulai diperkenalkan kepada masyarakat hingga kemudian berkembang menjadi bagian penting dari sejarah Kota Madiun.
(ws hendro/kus/madiuntoday)