Hadapi Musim Kemarau, DKPP Kota Madiun Perkuat Antisipasi demi Jaga Produktivitas Pertanian



MADIUN - Ancaman musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino berpotensi menurunkan produktivitas pertanian hingga memicu gagal panen di Kota Madiun. Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun memperkuat berbagai langkah untuk menjaga keberlangsungan produksi pangan.

Kepala DKPP Kota Madiun, Jemakir, mengatakan musim kemarau menjadi tantangan besar bagi sektor pertanian karena berisiko mengurangi ketersediaan air di lahan. Karena itu, pihaknya menyiagakan sebanyak 1.071 sarana irigasi dan pompanisasi guna memastikan kebutuhan air petani tetap terpenuhi.

“Kami memastikan kondisi tetap aman karena musim kemarau memiliki tingkat risiko yang tinggi,” ujarnya. 

Selain mengoptimalkan jaringan irigasi dan pompanisasi, DKPP juga memastikan seluruh kelompok tani telah memiliki barcode pembelian bahan bakar minyak (BBM). Fasilitas tersebut diperlukan agar operasional pompa air di lapangan tidak terkendala selama musim kemarau.

Upaya lain yang dilakukan adalah mendorong petani menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan dan membutuhkan air lebih sedikit. Salah satu varietas yang direkomendasikan yakni Inpari 32.

Tak hanya itu, pendampingan kepada petani juga dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan benih, pengolahan lahan, hingga penggunaan pupuk yang tepat agar hasil panen tetap optimal.

“Pendampingan dilakukan mulai pemilihan benih, pengolahan tanah, hingga penggunaan pupuk yang tepat agar produktivitas tetap terjaga,” katanya.

Untuk menjaga kualitas lahan, pemerintah turut menyalurkan pupuk hayati yang berfungsi memperbaiki struktur tanah sekaligus meningkatkan kemampuan tanah menyimpan cadangan air. Langkah tersebut dinilai penting untuk mempertahankan produktivitas lahan saat curah hujan menurun.

“Peningkatan produktivitas lahan harus ditingkatkan. Ini mengingat lahan pertanian yang terbatas,” ungkapnya.

Jemakir menambahkan, luas lahan pertanian di Kota Madiun saat ini sekitar 870 hektare. Luasan tersebut terus menyusut akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan kawasan perkotaan. Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi fokus utama pemerintah di tengah keterbatasan lahan yang tersedia.

“Perluasan lahan sudah sangat terbatas. Fokus kami sekarang adalah meningkatkan produktivitas lahan yang masih ada,” tandasnya.

(rams/kus/madiuntoday)