Inflasi Kota Madiun Naik 0,37 Persen, Pemkot Perkuat Antisipasi Kenaikan Harga Cabai



MADIUN – Laju inflasi Kota Madiun pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,37 persen. Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Madiun bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun memperkuat langkah antisipasi untuk menjaga stabilitas harga, terutama terhadap komoditas cabai yang diperkirakan berpotensi memicu kenaikan inflasi pada Juli.


Kepala BPS Kota Madiun Abdul Azis menjelaskan, inflasi pada Juni dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berdampak pada sektor transportasi, serta meningkatnya harga bawang merah dan bawang putih akibat penurunan produksi di sejumlah daerah sentra karena serangan organisme pengganggu tanaman.


“Inflasi sebesar 0,37 persen ini perlu menjadi kewaspadaan agar pada bulan-bulan berikutnya tidak kembali mengalami kenaikan,” ujarnya, Senin (27/7).


Selain faktor domestik, Azis menyebut kondisi geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah turut memberi tekanan terhadap harga sejumlah barang, khususnya komoditas impor. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau diperkirakan masih berpotensi mengalami gejolak harga pada semester II 2026 sehingga diperlukan upaya menjaga ketersediaan pasokan di daerah.


Menanggapi hal tersebut, Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menegaskan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) harus lebih proaktif dalam mengantisipasi potensi inflasi, bukan hanya bergerak ketika harga sudah mengalami kenaikan.


“Kami ingin TPID mampu memprediksi potensi inflasi sejak dini sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan sebelum harga naik,” katanya.


Menurutnya, Pemerintah Kota Madiun telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas harga, di antaranya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Operasi Pasar Murah (OPM), Warung Tekan Inflasi (Warteki), toko acuan pengendalian inflasi, hingga kerja sama antardaerah guna memastikan pasokan komoditas tetap terjaga.


Ia menambahkan, cabai menjadi salah satu komoditas yang perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki pengaruh besar terhadap laju inflasi. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat terhadap cabai membuat fluktuasi harganya berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap inflasi daerah.

(Rams/kus/madiuntoday)