Terinspirasi dari Layar, Miwas Wujudkan Mimpi Taklukkan Bentang Jawa 2026


Terinspirasi dari Layar, Miwas Wujudkan Mimpi Taklukkan Bentang Jawa 2026

MADIUN - Ada kalanya sebuah perjalanan dimulai bukan dari keyakinan bahwa seseorang mampu, melainkan dari rasa penasaran untuk mencoba. Bagi Miwas Akbar Puprananda, warga Taman, Kota Madiun, keinginan menaklukkan jarak jauh dengan sepeda perlahan membawanya pada tantangan yang dulu terasa begitu jauh dari angan-angan. 


Bentang Jawa, merupakan event ultra cycling berkonsep race unsupported yang mengajak peserta menempuh perjalanan sejauh 1.500 kilometer, dari Carita hingga Banyuwangi. Pada edisi 2026, sebanyak 196 pesepeda dari berbagai daerah di Indonesia ambil bagian, termasuk sejumlah peserta dari luar negeri.


Bagi Miwas, keputusan mengikuti Bentang Jawa tidak datang secara tiba-tiba. Ia justru terinspirasi dari aftermovie setiap edisi Bentang Jawa yang ditayangkan di YouTube. Dari layar, ia melihat perjalanan panjang para pesepeda melewati beragam karakter jalan, sekaligus menyaksikan perjuangan mereka mempertahankan kayuhan hingga garis akhir.


“Setiap aftermovie-nya itu terasa sangat magical, baik dari rute yang dilalui maupun perjuangan para pesertanya. Dari situ saya berkeinginan suatu saat bisa berada di barisan orang-orang yang berusaha menyelesaikan tantangan rute Bentang Jawa,” ujar Miwas.


Keinginan tersebut akhirnya terwujud pada Bentang Jawa 2026. Namun, berada di atas sadel selama perjalanan 1.500 kilometer tentu bukan perkara mudah. Panas dan terpaan angin di kawasan pesisir selatan Pulau Jawa menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi sepanjang perjalanan.


Bagi Miwas secara pribadi, tantangan terbesar justru datang dari sesuatu yang sederhana tetapi bisa sangat mengganggu perjalanan: rasa kantuk. Terutama selepas waktu dzuhur ketika tubuh mulai kehilangan energi. Untuk mengatasinya, ia memilih tidak memaksakan diri dan mengambil waktu istirahat sekitar satu hingga satu setengah jam sebelum kembali melanjutkan perjalanan.


Kegemarannya menempuh jarak jauh dengan sepeda sendiri sebenarnya sudah berlangsung sekitar tiga setengah tahun. Bukan sekadar mengejar angka kilometer, Miwas menikmati proses ketika kayuhan membawanya melewati rute-rute yang tenang dan indah. Menurutnya, perjalanan seperti itu mampu membuat pikiran terasa lebih segar.


Menariknya, Miwas justru bukan tipe pesepeda yang gemar berburu event. Sebelum Bentang Jawa, ia baru sekali mengikuti event, yakni Audax Madiun. Selebihnya, tantangan jarak jauh lebih sering ia lakukan secara mandiri. Jarak 100, 200 hingga 300 kilometer menjadi cara baginya mengukur kemampuan sekaligus melatih ketahanan diri.


Pengalaman terjauh lainnya terjadi pada Februari lalu ketika Miwas gowes seorang diri dari Semarang menuju Bali dengan jarak sekitar 1.000 kilometer. Perjalanan tersebut menjadi salah satu bekal sekaligus pengalaman berharga sebelum akhirnya menghadapi tantangan Bentang Jawa yang lebih panjang.


“Untuk ke depannya saya belum terlalu memikirkan ikut event apa. Saya lebih ingin tetap konsisten bersepeda, baik sendiri maupun bersama teman-teman komunitas. Kalau ada kesempatan, malah ingin membuat event bersepeda di Madiun, karena menurut saya rute di Madiun salah satu yang terindah dan menyenangkan untuk dilalui dengan sepeda,” katanya.


Bagi Miwas, Bentang Jawa bukan sekadar soal siapa yang paling cepat mencapai Banyuwangi. Perjalanan 1.500 kilometer itu menjadi pembuktian bahwa sebuah keinginan yang awalnya terasa terlalu jauh dapat didekati sedikit demi sedikit. Dari Madiun, ia berangkat membawa rasa penasaran, lalu pulang dengan pengalaman bahwa sejauh apa pun perjalanan, semuanya tetap dimulai dari satu kayuhan pertama.

(ws hendro/kus/madiuntoday)