Merangkul Lewat Isyarat, Anak Muda Madiun Gerakkan Kelas Bahasa Isyarat di CFD Bantaran
Madiun – Setiap Minggu pagi di kawasan Car Free Day (CFD) Bantaran, tak hanya penuh dengan orang yang ingin berolahraga atau sekadar berwisata kuliner. Di tengah lalu lalang masyarakat ada sekelompok anak muda berdiri dalam lingkaran kecil menggerakkan tangan mereka dalam keheningan yang penuh makna.
Mereka sedang belajar bahasa isyarat BISINDO, sebagai bagian dari gerakan sosial yang diinisiasi oleh anak-anak muda tuli dari DPC Gerkatin Kota Madiun.
Kegiatan ini pertama kali digelar pada 11 Mei 2025, dengan harapan menjadi jendela baru menuju masyarakat yang lebih inklusif dan penuh empati. Bukan hanya ditujukan untuk penyandang tuli, kelas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar cara berkomunikasi tanpa suara dengan tangan dan hati.
“Kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Teman tuli bukan orang asing, bukan pula berbeda. Mereka bagian dari kita, dan bahasa isyarat adalah jembatan untuk saling memahami,” ujar Rizki Setyawati, Wakil Ketua DPC Gerkatin Kota Madiun.
Menurut Rizki, bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, tapi simbol penghargaan terhadap keberagaman dan martabat manusia. Di kelas mingguan ini, masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang turut ambil bagian. Mereka belajar abjad jari, sapaan sederhana, hingga ekspresi wajah yang menjadi bagian penting dari komunikasi isyarat.
Kegiatan ini dipandu secara bergiliran oleh tiga fasilitator dari Gerkatin, yang juga adalah penyandang tuli. Meski kelas tidak selalu berlangsung setiap minggu, semangatnya tidak pernah surut.
“Kami senang saat melihat warga antusias belajar. Itu artinya mereka ingin memahami, bukan menjauh. Kegiatan ini bukan hanya soal bahasa, tapi tentang memanusiakan manusia,” lanjut Rizki.
Komunitas tuli di Madiun menyambut hangat inisiatif ini. Bagi mereka, ini bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan langkah nyata untuk membuka ruang dialog, menghancurkan stigma, dan menghapus anggapan bahwa tuli berarti bisu atau sulit diajak bicara.
“Kami ingin dilihat sebagai bagian dari komunitas, bukan sebagai beban. Harapan kami sederhana: bisa hidup berdampingan, saling menghargai, dan saling memahami,” ucap salah satu peserta yang juga anggota Gerkatin.
DPC Gerkatin Kota Madiun sendiri beranggotakan penyandang tuli dari berbagai profesi mulai dari mahasiswa, pekerja pabrik, hingga orang tua rumah tangga. Meski berbeda latar, mereka bersatu dalam satu tujuan: membuka mata dan hati masyarakat untuk lebih peduli.
Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh kata, gerakan tangan yang hening ini justru berbicara paling lantang: tentang kasih, pengertian, dan harapan akan dunia yang lebih setara.
(Ney/kus/madiuntoday)