Suhu Dingin Kota Madiun Bukan Karena Aphelion, Ini Penjelasan BMKG
Suhu Dingin Kota Madiun Bukan Karena Aphelion, Ini Penjelasan BMKG
MADIUN – Warga Kota Madiun belakangan ini merasakan suhu udara pagi dan malam yang lebih dingin dari biasanya. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa fenomena Aphelion menjadi penyebabnya. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa dugaan tersebut kurang tepat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa fenomena Aphelion memang terjadi pada 5 Juli 2025, yakni saat Bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari. Namun, fenomena ini hanya berdampak sangat kecil terhadap suhu Bumi, dan tidak memengaruhi musim ataupun kondisi cuaca secara langsung.
“Aphelion hanya menyebabkan penurunan suhu yang sangat kecil dan bersifat sementara. Tidak ada kaitannya dengan perubahan cuaca ekstrem atau gangguan kesehatan,” ujar Guswanto. Ia menambahkan, suhu dingin yang terjadi saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor musim kemarau.
Menurut BMKG, saat puncak kemarau antara Juli hingga September, angin dari Benua Australia bertiup ke wilayah Indonesia, termasuk Madiun. Angin ini membawa udara dingin karena Australia sedang berada di musim dingin, sehingga suhu di Pulau Jawa ikut menurun.
Kondisi langit yang cerah dan minim awan juga membuat panas dari permukaan Bumi lebih cepat hilang ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara di Madiun terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.
Fenomena ini wajar terjadi di wilayah selatan khatulistiwa, dan bukan disebabkan oleh Aphelion. “Ini adalah pola cuaca khas musim kemarau. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan,” tegas Guswanto.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan saat udara dingin, terutama di pagi dan malam hari. Menggunakan jaket saat keluar rumah dan menjaga asupan gizi bisa membantu tubuh tetap bugar selama puncak musim kemarau ini.
(rams/kus/madiuntoday)