Diiringi Keroncong, Bubur Suran dan Silat Jadi Simbol Laku Batin di SH Panti 1903
MADIUN - Alunan musik keroncong mengalun pelan, menyatu dengan suasana khidmat yang menyelimuti pelaksanaan tradisi Suran di SH Panti 1903, Sabtu (12/7). Dalam peringatan Suran ke-126 ini, dua hal kembali menjadi pusat perhatian: hidangan bubur suran yang hangat dan penuh makna, serta pertunjukan silat khas SH Panti yang sarat nilai filosofi.
Bukan sekadar sajian, bubur suran menyimpan makna spiritual yang mendalam. Ia menjadi simbol perenungan, kesederhanaan, dan laku batin di bulan Suro, khususnya dalam sepuluh hari pertama yang diyakini sebagai momen penting untuk menata hati dan pikiran.
“Bubur suran merupakan ciri khas dari slametan sejak jaman eyang suro, bubur suran merupakan khas umum sebagai orang jawa untuk melebur,” ungkap Ismadi, juru kecer SH Panti 1903.
Dirinya menambahkan, tradisi ini hanya dijalankan di lingkungan SH Panti 1903 dan diwariskan secara turun-temurun. Bubur berwarna putih disajikan dengan lauk sederhana seperti potongan telur, abon, dan sambal goreng.
Tak hanya menyajikan hidangan khas, pertunjukan silat tradisional Setia Hati juga digelar sebagai bagian dari rangkaian acara. Yang dipertunjukkan bukan sekadar gerakan fisik, melainkan cermin ajaran Ki Ngabehi Soerodiwirjo yang menekankan laku batin, ketundukan hati, dan persaudaraan sejati.
Ditampilkan secara bergantian oleh warga lintas usia, rangkaian jurus silat tersebut diiringi alunan musik keroncong, yang memperkuat nuansa kebersamaan dan menghangatkan suasana.
“Karena awal suro kan dari tanggal 1 sampai 10 itukan banyak peristiwa kita diajak untuk banyak merenung merenung di simbolisir dengan slametan bubur suro itu khas nya kita di panti setia hati tidak ada di tempat lain,” jelas Ismadi.
Tradisi slametan ini tak hanya menjaga warisan luhur, tetapi juga menjadi ruang edukasi spiritual, mempererat nilai-nilai persaudaraan, dan memastikan bahwa ajaran Setia Hati tetap hidup dalam kehidupan generasi penerus.
(ws hendro/nael/madiuntoday)