MADIUN – Terik matahari masih menyengat wilayah Madiun Raya. Suhu udara pada siang hari diprakirakan mencapai 34–37 derajat Celsius, sementara kelembapan turun hingga 30–45 persen. Kondisi panas dan kering ini diperkirakan bertahan hingga akhir Oktober, membuat warga perlu bersiap menghadapi cuaca terik dalam beberapa hari ke depan.
Pranata Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Nganjuk, Setiyaris, menyebut kondisi tersebut dipengaruhi angin Monsun Australia yang masih membawa massa udara kering. Pengaruhnya masih terasa meski Madiun Raya telah memasuki masa pancaroba atau peralihan musim.
Dampaknya, pembentukan awan hujan di wilayah dataran rendah masih terbatas. Hujan ringan memang masih berpeluang turun, tetapi sifatnya lokal, terutama di wilayah dataran tinggi pada sore hingga malam hari. Fenomena iklim global, seperti El Nino dan anomali positif Indian Ocean Dipole (IOD), turut memengaruhi kondisi tersebut.
"Meski sudah memasuki masa pancaroba, bukan berarti hujan akan turun merata di seluruh wilayah. Peluang hujan masih bersifat lokal, terutama di daerah dataran tinggi," ungkapnya.
Di tengah suhu yang tinggi, warga juga perlu memperhatikan kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan. Paparan panas dalam waktu lama, terlebih jika asupan cairan tidak tercukupi, dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
"Suhu tinggi berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi apabila tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup," imbaunya.
Selama cuaca terik masih berlangsung, warga disarankan mencukupi kebutuhan air minum dan mengurangi aktivitas di bawah sinar matahari langsung, terutama saat siang hari. Penggunaan air bersih juga perlu diperhatikan agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi di tengah kondisi udara yang cenderung kering. (rams/im/madiuntoday)