Optimalkan Tumbuh Kembang Anak Dengan Stimulasi Sensorik Ala Montessori
MADIUN – Sensorik merupakan salah satu periode sensitif anak dalam metode Montessori. Yakni, pendidikan yang membantu anak mencapai potensinya dalam kehidupan dengan menekankan pada kemandirian dan keaktifan anak melalui pembelajaran langsung seperti praktek dan permainan kolaboratif.
Keterampilan sensorik dikembangkan sejak anak usia 0 hingga 6 tahun. Periode kepekaan ini ditunjukkan dengan ketertarikan anak pada sentuhan rasa, penglihatan, dan penciuman. Untuk mendukung periode sensitif anak ini, orang tua perlu memberikan kesempatan anak menjelajahi dan mengamati lingkungan dengan berbagai indra mereka. Sehingga, mendukung tumbuh kembang buah hati yang lebih optimal.
Melatih kepekaan sensorik rupanya bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Hal ini seperti dijelaskan oleh Founder Sigma Montessori, Saktiti Luhur.
‘’Misalnya bunda sedang masak. Anak bisa diajak ke dapur dan mengenalkannya dengan hal-hal yang ada di dapur. Seperti, garam dan gula yang teksturnya berbeda,’’ ujarnya, Rabu (9/8).
Mengenalkan anak terhadap benda yang berbeda tekstur merupakan salah satu cara mengembangkan aspek sensitif untuk keterampilan sensorik. Hal ini juga bisa dilakukan melalui kegiatan yang lebih menyenangkan. Contohnya, bermain di rerumputan dan mewarnai balon dengan cat air. Selain belajar mengenal tekstur berbeda, anak juga bisa belajar ragam warna.
Tentunya, dalam melakukan kegiatan tersebut orang tua wajib menyediakan ruang bermain yang aman bagi anak. Misalnya ketika di dapur harus dijauhkan dari pisau dan kompor. Begitu pula saat di luar ruangan. Pastikan anak jauh dari hal-hal yang bisa membahayakan diri.
Saktiti pun menambahkan, pendidikan sensorik memberi dasar anak untuk belajar secara teratur. Pendidikan sensorik yang optimal akan berpengaruh terhadap pengembangan bahasa dan memperkuat keterampilan motorik anak di masa depan.
Meski begitu, Candidate Diploma Montessori ini menegaskan bahwa fase tumbuh kembang setiap anak berbeda dan unik. Karenanya, dia mengimbau kepada para orang tua agar tidak memaksa jika anak belum menunjukkan ketertarikan terhadap hal tertentu.
Sebab, menurut ners tersertifikasi Montessori ini, ada berbagai faktor yang menyebabkan anak belum menunjukkan ketertarikan. Misalnya, karena berada di lingkungan baru yang belum nyaman. Atau, masih belajar memahami situasi dan benda yang ada di hadapannya.
‘’Belum menunjukkan ketertarikan bukan berarti terjadi gangguan dalam tumbuh kembangnya. Tetap dampingi sembari terus dilatih dengan mengenalkan berbagai tekstur,’’ pungkas alumnus Universitas Padjajaran, Bandung itu. (WS Hendro/irs/madiuntoday)