BMKG Sebut Kekeringan Imbas El Nino Bertahan Hingga November
MADIUN - Dwikorita Karnawati Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, fenomena El Nino memicu kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
Fenomena itu juga yang membuat cuaca di Jakarta serta sejumlah kota lainnya terasa lebih panas dalam beberapa pekan belakangan.
Fenomena ini juga membuat berkurangnya hujan atau udara basah dibawa ke wilayah Indonesia. Akibatnya, udara yang terasa di wilayah Indonesia relatif kering dan memiliki suhu yang semakin tinggi.
Menurutnya, cuaca panas dan kekeringan akibat El Nino akan terus terjadi beberapa bulan ke depan sampai November 2023.
Sementara, puncak musim kemarau yang kering diprakirakan terjadi sampai pekan terakhir bulan Agustus.
Sementara untuk puncak musim kemarau diprediksi tidak akan terjadi serentak di Indonesia. Kekeringan tersebut bakal dimulai dari wilayah Barat dan berangsur-angsur ke wilayah Selatan sepanjang bulan September.
"El Nino masih akan bertahan sampai akhir tahun. Tapi dampaknya seiring dengan datangnya musim hujan makin berkurang. Sebab November sudah ada mulai hujan," ungkapnya.
Saat ini, lanjutnya, wilayah yang sudah terdampak langsung dari El Nino itu sekitar 63 persen wilayah zona musim. Di Indonesia dampak yang paling terasa adalah berkurangnya curah hujan.
“Ketika kita di musim kemarau ditambah El Nino, jadi semakin kering wilayah kita," ujarnya.
Di Kota Madiun sendiri, beberapa wilayah juga tak luput dari kekeringan. Seperti di area persawahan hingga sejumlah area di Kali Bantaran.
Menyikapi hal itu, beberapa dinas terkait juga telah melakukan berbagai antisipasi. Di antaranya seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Madiun yang melakukan monitoring rutin di area persawahan dan memberi penyuluhan kepada para petani untuk waspada terhadap musim kemarau.
Juga Badan Penanggulangan Bencana Kota Madiun, yang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan musim yang tak menentu.
(Dspp/kus/madiuntoday)