Mengenal My Keranjang Gallery, Produk Handmade Warga Winongo yang Tembus Pasar Nasional



Mengenal My Keranjang Gallery, Produk Handmade Warga Winongo yang Tembus Pasar Nasional

MADIUN – Deretan tas dan keranjang anyaman ramah lingkungan berjajar rapi di rak-rak sebuah rumah sederhana di Kelurahan Winongo, Kota Madiun. Tas dan keranjang berbagai model dan warna ini merupakan koleksi My Keranjang Gallery milik Azhar Budiarso. Dirintis sejak 2014, galeri ini tumbuh menjadi pusat produksi souvenir, hampers, hajatan, hingga corporate gift yang kini menembus pasar berbagai kota besar di tanah air.

Berbasis penjualan online, usaha pria kelahiran 1978 ini telah berjalan hampir 12 tahun lamanya. Usaha ini berawal dari potensi lingkungan sekitar yang dikenal sebagai sentra pengrajin tas pasar.

“Awalnya melihat dari pasar sendiri, banyak orang yang butuh. Lingkungan kami memang pengrajin tas pasar, dari situ kami kembangkan jadi berbagai model sesuai permintaan pelanggan, mulai yang premium sampai perlengkapan rumah tangga,” ujar Azhar, Selasa (27/1).

Keunggulan My Keranjang Gallery terletak pada layanan custom. Konsumen dapat memesan produk handmade ini dengan motif khusus, kombinasi batik, kulit, bambu, rotan, hingga penambahan logo korporasi.

“Produk kami bisa disesuaikan kebutuhan pembeli. Bisa ditambah logo corporate, dikombinasi dengan batik atau kulit, semuanya menyesuaikan kelas dan bahan yang diminta,” jelasnya.

Bahan utama anyaman ini menggunakan tali packing berbahan PP (polipropilena) yang dimodifikasi agar lentur dan mudah dianyam, sekaligus menjadi alternatif ramah lingkungan pengganti kantong plastik.

“Bahannya memang dari tali packing baru yang kami pesan dari pabrik, tapi sudah dilemaskan supaya bisa dianyam. Ini jadi alternatif pengganti kantong plastik dan bisa dipakai ulang,” tambah Azhar.

Azhar memasarkan hasil anyamannya kota-kota besar, seperti Surabaya, Yogyakarta, Bali, hingga Papua. Salah satu pesanan terjauh datang dari Dinas Kelautan Papua untuk keranjang panen kepiting. Harga produk bervariasi, mulai dari Rp 4.000 hingga Rp 150.000 per item, dengan pemesanan custom minimal sepuluh sampai 15 buah.

Dalam proses produksi, Azhar memberdayakan kelompok penganyam di wilayah Kota Madiun hingga perbatasan Ngawi. Puluhan ibu rumah tangga dilibatkan melalui sistem kemitraan. Dia juga memberikan pelatihan di sejumlah kelurahan di Kota Madiun.

“Kami potong bahan di sini, lalu dikirim ke rumah ibu-ibu untuk dianyam. Mereka tetap bisa mengurus keluarga, tapi tetap produktif dan punya penghasilan,” tuturnya.

Azhar mengungkapkan, tantangan terbesar yang dihadapinya terjadi saat masa pandemi Covid-19, ketika ketersediaan tenaga kerja menurun. Selain itu minimnya tenaga biasanya terjadi pada musim panen. Maklum sebagian besar ibu-ibu merupakan petani. Untuk pemasaran, My Keranjang Gallery memanfaatkan berbagai platform digital, seperti Shopee, TikTok, Instagram, dan Facebook.

Dengan beragam produk, mulai dari tas, kotak parcel, kontainer, kotak laundry basket, tempat sampah, hingga tempat mainan, My Keranjang Gallery terus mendorong penggunaan kerajinan anyaman sebagai pilihan fungsional, estetis, dan ramah lingkungan untuk kebutuhan sehari-hari.

(Bip/rat/agi/Madiuntoday)