Fenomena Standar Hidup Media Sosial, Ini Dampaknya bagi Generasi Muda



Fenomena Standar Hidup Media Sosial, Ini Dampaknya bagi Generasi Muda


MADIUN - Media sosial saat ini tak lagi sekadar menjadi ruang berbagi momen pribadi. Platform digital juga menjelma sebagai etalase gaya hidup yang kerap memunculkan standar kesuksesan tertentu. Mulai dari pilihan busana, perawatan diri, hingga cara menikmati waktu luang, semuanya seolah membentuk ukuran ideal yang diam-diam diikuti banyak orang.


Fenomena tersebut tak jarang menimbulkan tekanan, khususnya bagi generasi muda yang masih dalam proses membangun jati diri. Sosiolog Sry Lestari Samosir, M.Sos, menilai kondisi ini sebagai tantangan sosial yang cukup serius di era digital. Paparan konten yang terus-menerus, menurutnya, membuat sebagian masyarakat kesulitan membedakan antara kebutuhan nyata dan keinginan semu.


Sry menyebut, kemunculan platform video pendek melahirkan apa yang ia istilahkan sebagai “standar TikTok”. Standar ini umumnya lekat dengan citra barang mahal, penampilan fisik ideal, serta gaya hidup tertentu yang tampak sempurna di layar.


“Tantangan generasi pengguna media sosial saat ini adalah munculnya standar TikTok, yang sering dikaitkan dengan harga outfit, skincare, dan hal serupa,” ujarnya seperti dikutip dari Kompas.com.


Ia menegaskan, gambaran tersebut kerap tidak merepresentasikan kondisi kehidupan mayoritas masyarakat. Konten media sosial sering kali telah melalui proses kurasi, pengeditan, bahkan hanya menampilkan sebagian kecil dari realitas sebenarnya.


Lebih jauh, Sry menilai fenomena ini sebagai bentuk penjajahan gaya hidup modern. Bukan melalui kekuatan fisik, melainkan lewat penetrasi budaya populer yang secara perlahan memengaruhi cara berpikir dan pola konsumsi masyarakat.


“Ini bentuk penjajahan masa kini. Bukan dengan senjata, tapi lewat gaya hidup yang justru membuat banyak orang terjebak dan kehilangan arah,” tuturnya.


Ia menambahkan, kondisi tersebut turut mendorong budaya serba instan, mengejar kesenangan sesaat, serta kecenderungan pamer atau flexing di ruang digital.


Di tengah arus kuat pengaruh media sosial, Sry menekankan pentingnya kemampuan individu dalam menyaring informasi. Menurutnya, benteng utama agar tidak terjebak pada standar semu adalah pondasi diri yang kuat.


“Hanya diri kita sendiri yang bisa memfilter, dengan dasar nilai yang kokoh dan tidak mudah terpengaruh. Sayangnya, hingga kini belum ada regulasi khusus terkait konten yang sesuai dengan budaya sosial kita,” katanya.


Karena itu, peran keluarga dinilai sangat penting. Nilai hidup sederhana dan kesadaran untuk menyesuaikan gaya hidup dengan kemampuan finansial perlu ditanamkan sejak dini.

“Keluarga harus menanamkan prinsip hidup sesuai isi dompet, jangan memaksakan sesuatu di luar kemampuan,” ujarnya.


Selain itu, pendidikan karakter dari orang tua kepada anak juga menjadi kunci. Media sosial, kata Sry, tidak seharusnya dijadikan tolok ukur nilai seseorang. “Anak perlu diajarkan untuk menjadi diri sendiri, tidak menilai orang lain dari apa yang dikenakan, serta tetap memegang nilai-nilai luhur,” ucapnya.


Ia pun mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam mengonsumsi konten digital. Menurutnya, tidak semua kemewahan yang ditampilkan di media sosial benar-benar mencerminkan hasil kerja keras.

“Ada banyak hal di balik layar yang tidak diketahui audiens. Karena itu, jangan menelan mentah-mentah apa yang ada di media sosial,” pungkasnya.

(rams/kus/madiuntoday)