Menelusuri Jejak Penyebaran Islam di Masjid Taman, Tradisi Kesenian Gembrung Hingga Sayur Bening sebagai Simbol Kesucian Hati
Menelusuri Jejak Penyebaran Islam di Masjid Taman,
Tradisi Kesenian Gembrung Hingga Sayur Bening sebagai Simbol Kesucian Hati
MADIUN – Menelusuri jejak penyebaran Islam di Kota Pendekar kurang lengkap kiranya jika belum mengunjungi Masjid Kuno Taman. Masjid dengan nama lain Donopuro ini juga yang tertua setelah Masjid Kuno Kuncen. Berdiri sejak abak ke-18, masjid ini juga erat dengan jalannya pemerintahan Madiun kala itu. Tak heran, Pemerintah Kota Madiun juga serius menjadikan masjid ini destinasi wisata religi Kota Pendekar.
‘’Ada beberapa teori sejarah pembangunan Masjid Taman. Masjid dibangun pada 1754, tetapi teori lain menyebut bahwa masjid baru dibangun pada 1756 atau era kepemimpinan Bupati Madiun Ronggo Prawirodirjo I,’’ kata Ketua Historia Van Madioen Septian Dwita Kharisma, Kamis (122).
Pada tahun itu, lanjutnya, Ronggo Prawirodirjo I disebut sedang mencari lokasi strategis untuk pemerintahannya. Namun, di lokasi tersebut cukup berair karena memang sebuah rawa-rawa. Atas saran Kiai Donopura, lokasi tersebut akhirnya digunakan untuk pembangunan masjid. Tak ayal, nama Donopura dipakai untuk nama Masjid Kuno Taman.
‘’Karena daerahnya yang berair, kawasan itu juga digunakan sebagai tempat peristirahatan karena lingkungannya yang sejuk. Makanya, di wilayah Taman juga ada pesanggrahan,’’ ungkapnya.
Ronggo Prawirodirjo I juga dikenal pemimpin yang religius. Tak heran, masjid digunakan untuk penyebaran Islam. Baik secara langsung maupun melalui kesenian dan simbol-simbol. Tak ayal Masjid Kuno Taman juga dikenal dengan kesenian gembrungnya sampai kini. Selain itu, berbagai simbol juga masih melekat di masyarakat. Seperti memasak sayur bening saat Muharram atau suro sebagai simbol kesucian hati.
‘’Hal-hal seperti ini harus di-story telling-kan untuk menambah daya tarik wisatawan religi di Masjid Taman,’’ ungkapnya.
Seperti halnya di Masjid Kuno Kuncen, Masjid Kuno Taman juga memiliki area makam para tokoh. Septian juga menyarankan untuk diidentifikasi. Peziarah harus mendapatkan informasi yang lengkap terkait tokoh-tokoh yang dimakamkan di sana. Bukan hanya makam para pemimpin, tetapi makam tokoh penting lainnya.
Di Makam Kuno Taman, terdapat makam Raden Ronggo Prawirodirjo I atau Raden Ronggo Prawiro Sentiko yang menjadi Bupati Brang Wetan Gunung Lawu (1755-1784), Raden Ronggo Prawirodirjo II yang menjabat Bupati Madiun (1784-1797). Raden Ronggo Prawirodirjo II merupakan kakek dari Raden Ronggo Prawirodiningrat. Kemudian, makam Raden Bagoes Sentot Prawirodirdjo atau Sentot Ali Basya, panglima perang Pangeran Diponegoro. Sentot Ali Basya merupakan anak dari Raden Ronggo Prawirodirjo III.
‘’Dalam sebuah sumber juga disebutkan bahwa perlawanan Diponegoro terinspirasi dari perlawanan Raden Ronggo Prawirodirjo III yang tegas menolak keberadaan Belanda,’’ ujarnya.
Karena perlawanan tersebut, Raden Ronggo Prawirodirjo III sempat dimakamkan di Banyusumurup Jogja yang dikenal sebagai makam pemberontak. Baru pada era Hamengku Buwono IX dipindahkan ke Makam Gunung Bancak Magetan. Septian menyebut makam Raden Ronggo Prawirodirjo III sejatinya mau dipindahkan ke Makam Taman. Tetapi karena penuh, kemudian dimakamkan di Gunung Bancak.
‘’Kisah-kisah seperti ini bisa menjadi daya tarik tersendiri jika bisa dikemas dengan baik. Baik melalui tulisan atau tour guide,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/madiuntoday)