Sambut Imlek, Umat Tionghoa di Madiun Gelar Ritual Kimsin dan Bersih-Bersih Klenteng



Sambut Imlek, Umat Tionghoa di Madiun Gelar Ritual Kimsin dan Bersih-Bersih Klenteng


MADIUN – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, warga keturunan Tionghoa di Kota Madiun menggelar ritual Kimsin atau penyucian rupang dewa di Klenteng TITD Hwie Ing Kiong, Kamis (12/2). Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian menyambut pergantian tahun dalam penanggalan Imlek.


Dalam kebudayaan Tionghoa, Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 1 bulan pertama kalender Imlek merupakan perayaan terpenting dalam satu tahun. Momen tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pergantian waktu, tetapi juga kesempatan untuk melakukan evaluasi dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di tahun yang baru.


Perwakilan Pengurus TITD Hwie Ing Kiong, Herman Tanaka, menjelaskan bahwa terdapat 21 rupang dewa inti beserta duplikatnya yang dibersihkan dalam ritual tersebut. Sebelum prosesi dimulai, umat terlebih dahulu melaksanakan sembahyang Dewa Dapur, yakni ritual ketika Dewa Dapur dipercaya naik ke khayangan untuk melaporkan perilaku manusia selama satu tahun terakhir.


“Setelah ritual dan memohon izin, baru dilakukan pembersihan. Biasanya membutuhkan waktu dua hari,” ujarnya.


Ia menambahkan, pembersihan dijadwalkan berlangsung selama dua hari, Kamis (12/2) hingga Jumat (13/2). Saat prosesi berlangsung, rupang dalam keadaan “kosong” secara spiritual, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan penyucian.


Ritual Kimsin tidak sekadar membersihkan rupang dari debu dan kotoran. Lebih dari itu, prosesi ini sarat makna simbolis sebagai bentuk pembersihan jiwa dan batin umat dalam menyambut tahun yang baru. Pembersihan dilakukan menggunakan air hangat yang dicampur bunga atau air kembang. Peralatan seperti kuas dan lap yang digunakan pun harus dalam kondisi bersih dan harum.


Tak hanya rupang yang disucikan, umat yang terlibat juga diwajibkan mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Di antaranya dengan membersihkan diri, membuang pikiran negatif, berniat memperbaiki diri, bahkan sebagian menjalani pola makan vegetarian sebelum mengikuti ritual.


Selain penyucian rupang, umat juga melakukan bersih-bersih lingkungan klenteng mulai dari bagian depan hingga pekarangan. Pembersihan ini menjadi simbol kesiapan menyambut tahun baru dalam keadaan bersih dan suci.


Memasuki Tahun Kuda dengan unsur Api, Herman berharap momentum Imlek tahun ini dapat membawa perubahan yang lebih baik, tidak hanya bagi umat, tetapi juga bagi alam semesta.


“Harapannya, melalui kesempatan bersih-bersih ini, umat bisa semakin berbakti dan memperbaiki diri demi kebaikan bersama,” pungkasnya.

(ws hendro/kus/madiuntoday)