Hindari Dehidrasi, Simak Cara Mengatur Minum Selama Puasa
MADIUN - Menjalani ibadah puasa Ramadan membuat tubuh tidak memperoleh asupan cairan selama lebih dari 12 jam. Tanpa pengaturan yang tepat, kondisi ini berpotensi menimbulkan dehidrasi dengan gejala seperti lemas, pusing, hingga menurunnya konsentrasi.
Di sisi lain, masih ada anggapan bahwa mengurangi minum saat berbuka atau sahur dapat mencegah terlalu sering buang air kecil. Padahal, cara tersebut justru berisiko membuat tubuh kekurangan cairan.
Dokter spesialis urologi, Saras Serani Sesari, menjelaskan bahwa kebutuhan cairan harian orang dewasa rata-rata berada pada kisaran 2,5 hingga 3 liter per hari. Jumlah tersebut tetap perlu dipenuhi meski sedang berpuasa.
“Sebenarnya bukan mengurangi minum secara keseluruhan, tetapi mengatur kapan waktu yang tepat untuk minum,” ujarnya seperti dikutip di Kompas.com.
Sebagai panduan, saat sahur seseorang dapat mengonsumsi sekitar 700 mililiter air, kemudian ditambah sekitar 700 mililiter menjelang imsak. Pola ini membantu tubuh memiliki cadangan cairan sebelum memasuki waktu puasa.
Sementara itu, kebutuhan cairan saat berbuka dapat dipenuhi secara bertahap. Misalnya, sekitar 700 mililiter sebelum atau setelah salat Magrib, lalu ditambah 700 mililiter berikutnya setelahnya. Dengan pembagian tersebut, kebutuhan cairan harian tetap tercukupi tanpa harus minum dalam jumlah besar sekaligus yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada lambung.
Batasi Minuman Berkafein
Selain memperhatikan jumlah dan waktu, jenis minuman juga tidak kalah penting. Minuman berkafein seperti kopi, teh, dan soda sebaiknya dibatasi, terutama pada malam hari. Kandungan kafein dapat merangsang kandung kemih sehingga meningkatkan frekuensi buang air kecil dan mempercepat kehilangan cairan tubuh. Untuk menjaga hidrasi, air putih tetap menjadi pilihan utama.
Beri Jarak Minum Sebelum Tidur
Agar tidak sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil, asupan cairan sebaiknya dihentikan sekitar dua jam sebelum waktu tidur.
Waspadai Tanda Dehidrasi
Meski pola minum telah diatur, setiap orang tetap perlu memperhatikan kondisi tubuhnya. Rasa haus berlebihan, bibir kering, urine berwarna pekat, serta pusing dapat menjadi tanda dehidrasi.
Jika keluhan tersebut kerap muncul, pola minum perlu dievaluasi kembali. Pada kondisi tertentu, terutama bagi individu dengan gangguan kesehatan tertentu, konsultasi dengan dokter dianjurkan.
Dengan pengaturan waktu, jumlah, serta jenis minuman yang tepat, kebutuhan cairan selama Ramadan tetap dapat terpenuhi. Tubuh pun tetap bugar sehingga aktivitas dan ibadah dapat dijalankan dengan optimal.
(Rams/kus/madiuntoday)