Cuaca Madiun Labil, Siang Terik Sore Diguyur Hujan Lebat
MADIUN – Kondisi cuaca di wilayah Madiun dalam beberapa hari terakhir terpantau tidak stabil. Pada pagi hingga siang hari cuaca terasa cukup panas, namun menjelang sore hingga malam sering turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris, menjelaskan bahwa fenomena ini dipengaruhi pergerakan eks siklon tropis Narelle di Samudra Hindia, selatan Nusa Tenggara Timur. Pergerakan tersebut memicu tarikan massa udara yang berdampak pada pola angin di wilayah Jawa Timur.
“Saat ini angin baratan mendominasi dan membawa uap air dari Samudra Hindia serta Laut Jawa, sehingga meningkatkan potensi pembentukan awan hujan,” ujarnya, Kamis (26/3).
Ia menambahkan, kondisi tersebut juga memicu peningkatan kecepatan angin serta terbentuknya pertemuan angin (shearline) di atas Pulau Jawa. “Pertemuan angin ini yang mendorong pertumbuhan awan hujan, sehingga intensitas hujan cenderung meningkat,” imbuhnya.
Menurutnya, Jawa Timur saat ini tengah memasuki masa peralihan dari musim hujan ke kemarau. Meski demikian, potensi hujan masih cukup tinggi, terutama pada siang hingga sore hari.
“Hujan masih berpotensi terjadi dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan bisa disertai kilat dan angin kencang, meskipun sifatnya lokal,” jelasnya.
Untuk wilayah Madiun Raya, cuaca dalam tiga hari ke depan diprediksi didominasi cerah berawan dengan suhu udara cukup panas pada pagi hingga siang hari. Namun, potensi hujan lokal tetap perlu diwaspadai, khususnya di wilayah lereng Gunung Lawu dan Wilis.
“Wilayah Magetan, Ngawi, Madiun, dan Ponorogo berpotensi mengalami hujan lokal, terutama pada siang hingga sore hari,” katanya.
Selain itu, BMKG juga mengingatkan adanya potensi peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan yang dapat memicu gelombang sedang hingga tinggi di perairan selatan Jawa Timur dan Selat Bali.
“Masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi resmi BMKG dan waspada terhadap potensi cuaca ekstrem guna meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi,” tandasnya.
(rams/kus/madiuntoday)