Stiker Jadi Bahasa Emosi Gen Z, Psikolog: Awas Gagap di Dunia Nyata!



MADIUN – Cara Gen Z ngobrol di media sosial memang nggak ada matinya. Kalau dulu stiker dan meme cuma buat lucu-lucuan, sekarang fungsinya sudah geser jadi bahasa emosi utama. Nggak perlu lagi ngetik panjang lebar sampai jempol pegal, cukup kirim satu stiker, perasaan si pengirim sudah langsung terwakili.

Fenomena ini pun ditanggapi oleh Psikolog Klinis RSUD Soedono Provinsi Jawa Timur, Azimatul Munawaroh. Menurutnya, kebiasaan ini muncul karena anak muda zaman sekarang lebih suka hal-hal yang instan dan praktis dalam mengelola perasaan.

“Pakai stiker itu bikin mereka gampang sampaikan emosi secara instan tanpa perlu ribet nyusun kalimat. Jadi, ini bukan cuma soal gaya-gayaan, tapi memang sudah jadi pola komunikasi mereka,” jelasnya.

Kenapa sih lebih milih stiker? Azimatul menilai, penggunaan kata-kata terkadang terasa lebih rumit dan rawan memicu salah paham atau overthinking. Lewat visual, pesan biasanya tersampaikan lebih cepat, terasa lebih aman, dan gampang dipahami dalam obrolan digital.

Nggak cuma itu, stiker dan meme juga sering jadi obat penghilang stres. Saat lagi cemas atau jenuh, kirim meme lucu bisa langsung mencairkan suasana yang kaku. Alhasil, hubungan antar teman pun terasa lebih akrab dan dekat.

Tapi tunggu dulu, meski praktis, ada risiko yang mengintai di baliknya. Azimatul mengingatkan bahwa ketergantungan pada pola komunikasi ini bisa berdampak kurang baik saat harus berinteraksi secara tatap muka.

"Bergantung pada stiker saat berekspresi memang seru, tapi bisa jadi gagap pas berbicara langsung. Pola ini tidak sehat kalau dilakukan terus-menerus, apalagi jika tujuannya cuma untuk menghindari masalah," pesannya.

Singkatnya, stiker dan meme memang cara paling sat-set buat Gen Z berbagi perasaan. Tapi jangan lupa, tetap asah kemampuan bicara secara langsung agar komunikasi di dunia nyata tak kalah lancar dengan di dunia maya. (bip/im/madiuntoday)