Madiun Menulis, Dari Ruang Diskusi Hidupkan Ide Lewat Tulisan, Tumbuhkan Budaya Literasi



MADIUN – Semangat literasi di Kota Madiun terus digelorakan. Sebanyak 60 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pengelola perpustakaan, pegiat literasi, hingga masyarakat umum mengikuti program Madiun Menulis yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun, Kamis (23/7). Mereka sebelumnya telah lolos seleksi secara daring dengan mengirimkan karya tulis, sebelum akhirnya mengikuti kelas menulis yang dibimbing langsung oleh narasumber berpengalaman. Nantinya, karya para peserta akan dibukukan sebagai bentuk apresiasi sekaligus dokumentasi gagasan.


Tak sekadar belajar teknik menulis yang baik dan menarik, para peserta juga diajak menggali kekayaan budaya lokal sebagai sumber inspirasi. Program ini menjadi langkah awal membangun ekosistem literasi yang diharapkan mampu melahirkan lebih banyak penulis sekaligus pencerita yang mengangkat identitas Kota Madiun.


Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun menegaskan, gerakan ini bukan hanya soal menghasilkan tulisan, melainkan mengumpulkan gagasan untuk masa depan kota. Ia bahkan memasang target besar agar Madiun memiliki ribuan penulis yang mampu menghadirkan ide-ide segar bagi pembangunan.


"Saya sebenarnya berharap 1.000 penulis Madiun. Semakin banyak penulis itu bagus. Karena dari 1.000 penulis berarti ada 1.000 ide yang terkumpul untuk membangun Kota Madiun. Makanya kegiatan-kegiatan ini harus terus didorong. Semua bermula dari cerita, dan cerita itu bisa membangun pariwisata, ekonomi kreatif, hingga sejarah Kota Madiun," ujarnya.


Menurut Bagus, setelah tahap Madiun Menulis, pemerintah akan melanjutkannya melalui program Madiun Bercerita. Seluruh karya diharapkan tetap berakar pada budaya lokal sebagai identitas yang nantinya diperkenalkan lebih luas.


"Kita bangun dulu identitas lokal kita. Setelah itu baru kita perkenalkan kepada dunia. Saya ingin setiap sudut Kota Madiun memiliki cerita yang bisa dibaca, diceritakan, dan dikenang," tambahnya.


Sejalan dengan visi tersebut, Muhsin Kalida, salah satu narasumber yang juga dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menilai program Madiun Menulis menjadi langkah konkret Pemerintah Kota Madiun dalam membangun budaya literasi. Menurutnya, program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memfasilitasi peserta hingga karya mereka diterbitkan menjadi buku. Di sisi lain, ia menegaskan bahwa motivasi merupakan fondasi utama dalam menulis, sementara perkembangan teknologi membuka ruang bagi siapa saja untuk menuangkan ide dan pengetahuannya melalui tulisan.


"Sekarang menulis tidak harus pakai buku dan pena. Sudah bisa pakai HP. Punya ide kapan pun, di mana pun jangan lupa ditulis, karena itu bisa dibaca banyak orang. Kemajuan teknologi memberi peluang yang besar bagi calon-calon penulis untuk menuangkan ide-idenya," ujarnya.


Antusiasme peserta pun tampak sepanjang kegiatan. Imelda dan Intan Syarifatul Hidayah contohnya, siswi Sekolah Menengah Atas yang tergabung dalam Empok Remen (Kelompok Remaja Menulis), mengaku memperoleh banyak wawasan baru, mulai dari teknik menulis yang baik hingga menggali potensi sejarah, budaya, dan kekayaan lokal Kota Madiun yang layak diangkat menjadi sebuah karya.


Keduanya berharap kegiatan ini mampu meningkatkan kemampuan menulis sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri untuk terus berkarya. Dengan lahirnya semakin banyak penulis muda, Madiun tidak hanya membangun budaya literasi, tetapi juga menyiapkan generasi yang mampu menceritakan kotanya kepada dunia.

(Bip/rat/Madiuntoday)