Di Balik Setiap Tatahan Wayang Kulit, Ada Seorang Guru yang Menjaga Warisan Budaya



MADIUN – Bunyi ketukan palu kecil terdengar berulang memecah keheningan. Di atas selembar kulit, ujung tatah bergerak perlahan membentuk lekuk demi lekuk. Tak boleh terburu-buru. Satu kesalahan kecil saja bisa membuat seluruh pekerjaan berhari-hari sia-sia.


Begitulah rutinitas Agus Wijanarko ketika berada di sanggarnya. Berbeda dengan kesehariannya di ruang kelas sebagai guru SMK YP 17-1 Madiun, pria 45 tahun asal Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, itu menghabiskan waktu luangnya untuk menjaga salah satu warisan budaya Indonesia melalui wayang kulit.


Jalan hidup Agus menuju dunia pewayangan ternyata tidak dimulai dari meja tatah. Kecintaannya tumbuh sejak masa kanak-kanak. Sang ayah, Sutrisno, merupakan pemain wayang orang yang kerap mengajaknya menyaksikan pertunjukan. Dari sanalah ia mulai mengenal tokoh-tokoh pewayangan, mencintai sejarah, hingga akhirnya jatuh hati pada budaya yang kini menjadi bagian dari hidupnya.


"Saya memang sejak kecil suka sejarah. Bapak juga pemain wayang orang, jadi sering diajak melihat pertunjukan. Dari situ saya jadi menyukai dunia wayang," tuturnya.


Meski begitu, Agus tidak pernah membayangkan akan menjadi perajin wayang kulit. Mimpi awalnya justru ingin menghidupkan kembali wayang beber, kesenian khas Pacitan yang menyampaikan cerita melalui gulungan gambar, sebagai inspirasi motif batik.


Keinginan itu membawanya belajar langsung ke Pacitan selama sepekan pada 2024. Namun, pelatihan tersebut justru mengubah arah perjalanannya. Di tengah proses belajar, Agus terpikat pada keindahan detail wayang kulit yang menurutnya memiliki karakter visual lebih kuat sekaligus menyimpan filosofi mendalam.


Sekembalinya ke Madiun, ia mulai memberanikan diri membuat tokoh pertamanya, Semar. Setelah itu lahirlah Puntadewa. Ketekunan Agus perlahan membuahkan hasil. Salah satu karyanya bahkan menarik perhatian mantan Ketua TP PKK Kota Madiun, Yuni Maidi, yang memesan tokoh Nakula dan Sadewa. Sejak saat itu, semangatnya untuk terus berkarya semakin besar.


Di balik keindahan setiap tokoh wayang, ada proses panjang yang menuntut ketelitian tinggi. Agus memulai dengan menggambar pola karakter, memindahkannya ke kulit menggunakan karbon atau bantuan cahaya, kemudian menatah satu demi satu bagian hingga membentuk ornamen yang rumit. Setelah itu wayang disungging atau diwarnai, diberi lapisan pelindung agar warnanya awet, lalu dipasangi gapit sehingga siap dimainkan.


Bagian menatah menjadi tahap yang paling menegangkan. Kesalahan sekecil apa pun bisa membuat bahan robek dan sulit diperbaiki.


"Kalau salah menatah, kulit bisa langsung rusak. Memang bisa disambung, tetapi prosesnya rumit dan membutuhkan ketelatenan," ujarnya.


Karena itulah, satu tokoh wayang bisa memakan waktu antara tiga pekan hingga dua bulan untuk diselesaikan. Pengerjaannya pun dilakukan di sela-sela kesibukannya mengajar.


Perjalanan Agus sebagai perajin juga tidak selalu mudah. Seluruh bahan kulit masih harus didatangkan dari Ponorogo karena belum tersedia di Kota Madiun. Ia pun kerap kesulitan memperoleh pola karakter wayang karena tidak semua perajin bersedia membagikannya.


Untuk memperluas jangkauan masyarakat, Agus juga membuat wayang berbahan talang air atau PVC yang lebih terjangkau namun tetap memiliki nilai seni. Meski demikian, hasil karyanya hingga kini masih dipasarkan secara sederhana melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.


Bagi Agus, membuat wayang bukan sekadar menghasilkan karya seni. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni memastikan warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.


Ia berharap generasi muda mulai mengenal wayang bukan hanya sebagai benda koleksi, tetapi juga sebagai sumber nilai kehidupan.


"Mulailah dengan menyukai ceritanya. Setelah itu koleksi satu atau dua tokoh wayang, lama-lama pasti akan semakin tertarik. Wayang memiliki banyak pesan moral dan sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Jangan sampai generasi muda melupakan budaya ini," pesannya.


Di sela kesibukannya mendidik siswa, Agus diam-diam juga sedang mendidik sejarah agar tetap hidup. Sebab baginya, setiap tatahan pada wayang bukan sekadar membentuk tokoh, melainkan menjaga cerita, nilai, dan jati diri bangsa agar terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

(istimewa/im/madiuntoday)