Grebeg Maulud Kembali Digelar, Tradisi Lama Madiun Bangkit Setelah Tujuh Tahun Vakum



MADIUN – Setelah tujuh tahun vakum, Grebeg Maulud Nabi Muhammad SAW kembali digelar di Kota Madiun. Tradisi yang terakhir dilaksanakan pada 2019 itu kembali hadir pada 24–25 Agustus 2026. Tak hanya kembali digelar, Grebeg Maulud juga ditetapkan menjadi agenda rutin tahunan Kota Madiun.


Bukan sekadar menggelar kembali tradisi yang sempat berhenti, Grebeg Maulud kini kembali menjadi bagian dari tradisi budaya Kota Madiun. Terlebih, Grebeg Maulud telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kota Madiun. Karena itu, tradisi ini kembali digelar agar tetap hidup, dikenal masyarakat, dan bisa terus diwariskan kepada generasi muda.


Sekretaris Disbudparpora Kota Madiun, Kahono Pekik Hari Prasetiyo mengatakan kembalinya Grebeg Maulud memang berkaitan erat dengan statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kota Madiun.


“Memang sudah lama tidak dilaksanakan, tetapi karena sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Kota Madiun, maka harus dilaksanakan secara rutin,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (24/8).


Menurut Pekik, Grebeg Maulud juga bukan sekadar kegiatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di dalam setiap prosesi terdapat makna dan filosofi kearifan lokal yang masih penting untuk dikenalkan kembali kepada masyarakat.


“Acara ini selain sebagai peringatan hari kelahiran Rasulullah, juga dalam prosesi menunjukkan filosofi kearifan lokal keharmonisan antara manusia, budaya dan alam,” jelasnya.


Karena itu, kembalinya Grebeg Maulud juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali budaya lokal kepada generasi penerus. Tradisi tersebut sekaligus menjadi sarana meningkatkan nilai keimanan masyarakat dan memperkuat identitas Kota Madiun sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan wisata religi.


“Grebeg Maulud Kota Madiun tidak hanya bertujuan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW dan meningkatkan nilai keimanan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana melestarikan, menghidupkan, dan mewariskan tradisi serta budaya lokal kepada generasi penerus,” katanya.


Rangkaian Grebeg Maulud diawali Senin (24/8) malam melalui Malam Manggulan di Masjid Kuno Kuncen dan Masjid Kuno Taman. Prosesi diisi doa, tahlil, dan sholawatan yang diiringi Gembrung Taman.


Puncak Grebeg Maulud digelar Selasa (25/8) pagi melalui kirab Gunungan Jaler dan Gunungan Estri. Kirab dimulai dari Masjid Besar Kuno Taman menuju Jalan Asahan, melintasi sejumlah ruas jalan pahlawan dan berakhir di Alun-Alun Kota Madiun.


Setelah tujuh tahun vakum, Grebeg Maulud kini kembali menjadi bagian dari denyut budaya Kota Madiun. Ke depan, tradisi ini akan digelar rutin setiap tahun agar tetap hidup dan nilai-nilai budaya di dalamnya terus dikenal serta diwariskan kepada generasi berikutnya.(rams/im/madiuntoday)