Foto utama berita: Kasus DBD Kota Madiun Menyusut, Ancaman Nyamuk Belum Surut

Kasus DBD Kota Madiun Menyusut, Ancaman Nyamuk Belum Surut

MADIUN – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Madiun menurun pada 2026. Hingga 12 Oktober, tercatat 35 kasus, jauh di bawah angka 2024 yang mencapai 586 kasus. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena penularan masih berpotensi terjadi, termasuk saat musim kemarau.

Peringatan tersebut menyusul temuan jentik positif dan indikasi penularan DBD di wilayah RT 14 dan RT 15, RW 5, Jalan Puter, Kelurahan Nambangan Kidul. Hasil penyelidikan epidemiologi oleh Puskesmas Manguharjo menjadi dasar dilakukannya fogging atau pengasapan untuk mengendalikan nyamuk dewasa di wilayah tersebut.

Penanggung jawab Program DBD Puskesmas Manguharjo, Mitia Febrianti, menjelaskan, penanganan bermula dari laporan rumah sakit kepada Dinas Kesehatan yang kemudian diteruskan ke puskesmas. Petugas selanjutnya melakukan penyelidikan epidemiologi, termasuk memeriksa jentik dan menelusuri kemungkinan penularan di sekitar tempat tinggal pasien.

“Dari hasil penyelidikan epidemiologi, kami menemukan jentik positif dan ada penderita lain. Jadi, penderita tidak hanya satu. Kondisi tersebut menjadi indikasi adanya penularan di wilayah itu,” jelas Mitia.

Fogging dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, bukan semata-mata karena adanya satu kasus DBD. Pengasapan dilaksanakan dalam dua siklus dengan interval tujuh hari dan menjangkau radius sekitar 200 meter dari lokasi pasien.

Meski begitu, Mitia menegaskan fogging bukan solusi utama untuk memberantas DBD. Pengasapan hanya efektif membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik yang berkembang biak di tempat penampungan air perlu diberantas melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Pencegahan yang paling efektif tetap melalui 3M. Kalau PSN, semua orang bisa melakukannya. Selain lebih murah, upaya ini juga bisa dilakukan secara rutin oleh masyarakat,” ujarnya.

Penerapan 3M meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air. Mitia mengingatkan, wadah air di dalam rumah tetap bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk meski cuaca sedang panas.

“Sekarang cuaca panas, tetapi tempat penampungan air di dalam rumah masih bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Karena itu, masyarakat harus tetap melakukan PSN, jangan hanya ketika musim hujan,” katanya.

Berdasarkan data fogging focus Kota Madiun tahun 2026, penanganan telah dilakukan di sejumlah wilayah Kecamatan Taman, Manguharjo, dan Kartoharjo. Sementara itu, dari 35 kasus DBD yang tercatat hingga 12 Oktober 2026, kelompok usia 7–12 tahun mendominasi, dengan pasien laki-laki mencapai 66 persen.

Penurunan kasus DBD perlu diikuti konsistensi pencegahan di lingkungan rumah dan masyarakat. Warga diimbau rutin memeriksa tempat penampungan air, memberantas jentik, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam yang mengkhawatirkan.

(rams/kus/madiuntoday)

Galeri Foto

5 foto
Kategori: Berita
Tag: #Berita #Fenomena
Bagikan:
Daffa Admin Kominfo

Daffa Admin Kominfo

Penulis artikel di Madiun Today — portal berita resmi Pemerintah Kota Madiun.

Artikel Terkait