Makanan-Minuman Legendaris di Kota Pendekar (2)



Sudah Sejak Zaman Belanda, Tepo Tahu Depan DKK Tetap Jadi Idola 


MADIUN – Tempatnya sederhana namun pengunjungnya luar biasa. Begitu kesan yang mengemuka saat berada di warung tepo tahu bu Misinem. Warung tepo tahu yang lebih dikenal dengan sebutan tepo tahu depan DKK atau Dinas Kesehatan Kota itu ternyata sudah ada sejak zaman Belanda dulu. Tak perlu diragukan lagi, tepo tahu itu salah satu yang legendaris di Kota Pendekar. 


‘’Pendengaran mak (bu Misinem) sudah berkurang. Jadi harus agak kenceng kalau ngajak ngomong,’’ kata Madilah, anak kedua Misinem yang turut membantu berjualan, Kamis (6/1) malam.


Maklum usia Misimen sudah berkepala delapan. Tahun ini, tepat berusia 80 tahun. Namun, semangatnya jangan ditanya. Nenek delapan cucu dan delapan buyut itu masih cekatan saat menjuali pelanggannya. Dia dibantu beberapa anaknya. Termasuk Madilah. Madilah yang kerap menjadi penghubung komunikasi dengan pelanggan. Misalnya, jumlah yang dibeli, ukuran pedas, maupun soal kembalian pembayaran. 


‘’Mak sudah pernah saya minta untuk istirahat. Tapi tidak mau. Beberapa juga masih dipegang mak sendiri,’’ terangnya. 


Seperti, lanjut Madilah, belanja ke pasar sampai membuat tepo. Madilah biasanya membantu untuk menggoreng tahu, membuat aneka gorengan, menggoreng kacang dan membungkusnya, menggoreng kerupuk, sampai menghaluskan sambal kacang. Proses penghalusan sambal kacang juga bukan digiling. Namun, ditumbuk atau dideplok. Masinem memang masih mempertahankan cara tradisional. Termasuk alat memasak yang masih menggunakan tungku arang bukan kompor gas. 


‘’Dari dulu ya seperti ini. Memang tidak boleh digiling sama mak. Kalau untuk memasak, mak tidak berani pakai kompor. Jadi tetap pakai arang,’’ ungkapnya. 


Hal itu mungkin yang menghasilkan citra rasa tersendiri tepo tahu depan DKK tersebut. Tak heran tetap jadi idola sampai sekarang. Padahal, sudah ada sejak zaman Belanda. Misinem merupakan generasi kedua. Dia melanjutkan usaha warisan bapaknya. Yakni, Marto Selo. Nah, Marto Selo yang kali pertama berjualan tepo tahu di era kolonial tersebut. 


‘’Tempatnya juga di sini. Tapi dulu di emperan depan situ. Tapi sekarang tidak boleh, makanya pindah agak masuk,’’ jelasnya.


Marto Selo sendiri bertempat tinggal di Jalan Siak Kelurahan Pandean. Dari tempat tinggalnya dia berjualan dengan dipikul untuk menuju ke depan DKK Jalan Trunojoyo itu. Namun, Madilah menyebut kakeknya tidak berjualan keliling. Setiap hari berjualan di pinggir jalan. Madilah belum pernah mengetahui kakeknya berjualan. Sejak sebelum dia lahir, urusan berjualan tepo tahu sudah digantikan Misinem, ibunya. 


‘’Saat kakak saya lahir tahun 1962, mak sudah menggantikan kakek berjualan. Kakek sudah cukup tua untuk berjualan,’’ ujarnya sembari menyebut ibunya sudah berjualan 60 tahun lebih. 


Madilah berharap bisa melanjutkan usaha tepo tahu warisan kakeknya itu ke depan. Sebab, sudah cukup banyak pelanggan. Tidak hanya dari dalam Kota Madiun dan sekitar. Namun, sampai di luar Jawa. Seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Khususnya orang Kota Madiun yang merantau. Saat mudik, kebanyakan mampir untuk bernostalgia. Warungnya biasa buka mulai 16.30 sampai 23.00 dan tutup setiap hari Minggu. Satu porsi tepo tahu dijual Rp 7 ribu. Kalau dobel tahu jadi Rp 8 ribu. Tentu harga yang masih sangat terjangkau. 


‘’Dalam sehari mak biasanya buat 4 kilo tepo. Kalau tahunya, biasa ya satu ember gini. Alhamdulillah, mesti habis,’’ pungkasnya. (rams/agi/madiuntoday)