Penjual Kue Kering di Kota Madiun Kebanjiran Pesanan Jelang Lebaran




MADIUN – Menjelang Lebaran, dapur Shinta Rahmadhani (34) di Jalan Singosari, Kelurahan Patihan, Madiun, semakin sibuk. Ibu dua anak ini kebanjiran pesanan kue kering, meski menurutnya jumlah orderan tahun ini masih stabil seperti tahun-tahun sebelumnya.

Shinta mulai membuat kue kering tiga tahun lalu, awalnya hanya untuk camilan sendiri. Tapi karena banyak yang penasaran dan ingin ikut mencicipi, dirinya pun mulai berjualan.

“Dulu cuma buat sendiri, eh teman-teman malah pada tanya dan minta dibuatin. Akhirnya coba jualan, alhamdulillah sampai sekarang masih jalan,” ceritanya.

Selama Ramadan, dirinya fokus menerima pesanan kue kering. Sehari bisa membuat sekitar 10 toples, tergantung jenisnya. “Sekarang lagi bikin nastar. Ini yang paling lama karena butuh dua jam di oven. Kalau kue lain, dua jam sudah jadi banyak,” ujarnya.

Meski sibuk, dirinya masih menyempatkan diri membuat takjil. Jika digabung, produksi kuenya bisa mencapai 200 toples. Ada 16 varian kue kering yang ditawarkan, semuanya dibuat berdasarkan pesanan.

Yang paling laris adalah kastengel 500 ml yang menggunakan tiga jenis keju khusus. Selain itu, sagu keju juga banyak diminati dengan harga Rp 65.000–Rp 85.000 untuk kemasan 700 ml. Tahun ini, dirinya menghadirkan varian baru, palm cheese, sementara tahun lalu putri salju keju jadi favorit pelanggan.

Shinta berjualan secara online lewat WhatsApp dan Instagram. Tahun ini, sekitar 10% pelanggan baru datang dari Instagram. “Mungkin karena makin banyak yang tahu dari rekomendasi teman-teman,” katanya. Pelanggannya tersebar di berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Gresik, mayoritas dari lingkaran kenalan lama.

Berjualan online tentu ada tantangannya. Dirinya pernah tertipu modus kelebihan transfer, di mana pelaku mengaku sudah mentransfer lebih, padahal setelah dicek ternyata tidak ada. “Untungnya saya teliti, jadi nggak sampai rugi,” tuturnya.

Sebelum berjualan, Shinta sempat bekerja di Jakarta setelah lulus dari S1 Akuntansi UNS pada 2012. Namun, saat pandemi, ia memutuskan resign dan fokus usaha di rumah. Resep-resep kuenya ia pelajari secara otodidak dari YouTube sampai menemukan yang paling cocok.

Kini, dirinua menikmati rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pebisnis kuliner. Harapannya, usahanya bisa terus berkembang. “Semoga ke depan makin banyak pelanggan dan ada yang bisa bantu produksi, biar orderan makin lancar,” pungkasnya.
(Ney/kus/madiuntoday)