Inflasi Kota Madiun Februari 2026 Capai 4,40 Persen, Tarif Listrik Jadi Penyumbang Terbesar



MADIUN - Badan Pusat Statistik Kota Madiun mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Kota Madiun pada Februari 2026 sebesar 4,40 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 109,46. Angka tersebut lebih tinggi dibanding Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,54 persen dan Februari 2024 yang mencatat inflasi 2,70 persen.

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Kota Madiun juga mengalami inflasi sebesar 0,74 persen pada Februari 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok dan energi.

Kepala BPS Kota Madiun dalam rilis resmi Perkembangan Indeks Harga Konsumen, 2 Maret 2026, menyampaikan bahwa inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.

“Inflasi y-on-y Februari 2026 sebesar 4,40 persen terjadi karena adanya kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama kelompok perumahan serta makanan dan minuman,” ujarnya.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 15,25 persen dan andil 2,03 persen. Tarif listrik tercatat sebagai komoditas dominan dengan sumbangan 1,95 persen terhadap inflasi tahunan.

Menurut BPS, kenaikan signifikan pada tarif listrik dipengaruhi efek basis rendah (low base effect), mengingat pada Februari 2025 terdapat kebijakan diskon tarif listrik dari pemerintah sehingga indeks saat itu tercatat lebih rendah.

“Secara tahunan, kenaikan tarif listrik memberikan andil paling besar terhadap inflasi Februari 2026,” jelasnya.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,08 persen dengan andil 1,14 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi antara lain beras, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.

“Komoditas pangan masih menjadi penyumbang utama inflasi, khususnya beras dan cabai rawit,” tambahnya.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi 8,75 persen dengan andil 0,45 persen, terutama dipicu kenaikan harga emas perhiasan. Kelompok pendidikan juga mengalami inflasi 3,45 persen, didorong kenaikan biaya akademi/perguruan tinggi dan bimbingan belajar.

Pada kelompok kesehatan, inflasi tercatat 3,78 persen akibat kenaikan tarif rumah sakit, layanan check up, dan obat resep. Sementara kelompok transportasi mengalami inflasi 1,62 persen, didorong kenaikan harga mobil dan tarif jalan tol, meski harga bensin tercatat menahan laju inflasi.

Untuk inflasi bulanan, kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah menjadi pemicu utama. Sebaliknya, bensin, wortel, dan minyak goreng tercatat menekan inflasi Februari 2026.

BPS menegaskan pemantauan harga komoditas strategis perlu terus dilakukan guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat di Kota Madiun.

(Dspp/kus/madiuntoday)