Di Bawah Bayang Salib, Kisah Cinta dan Pengorbanan Dihidupkan di Gereja Paroki Mater Dei Madiun
MADIUN – Cambuk itu terayun, menghantam punggung sosok yang memerankan Yesus. Suaranya memecah hening, membuat sebagian umat menunduk, sebagian lain menahan haru. Di sudut lain, sosok-sosok prajurit Romawi berseru lantang, menggiring adegan demi adegan yang terasa begitu nyata dalam visualisasi Jalan Salib di Gereja Paroki Mater Dei Madiun, Jumat (3/4).
Satu per satu fragmen sengsara ditampilkan. Dari pengkhianatan, pengadilan yang sarat tekanan, hingga perjalanan memanggul salib yang berat, seluruhnya dirangkai dengan penghayatan mendalam. Namun, kisah yang dihadirkan bukan sekadar tentang luka dan penderitaan. Lebih dari itu, umat diajak menyelami makna cinta yang rela berkorban, bahkan hingga menyerahkan nyawa.
Perayaan Jumat Agung menjadi momen penting bagi umat Katolik untuk mengenang sengsara Yesus Kristus. Jalan Salib menjadi bagian dari rangkaian ibadah yang akan berpuncak pada Hari Paskah pada Minggu. Dari suasana duka, umat diarahkan menuju sukacita kebangkitan.
Visualisasi tahun ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak muda, mahasiswa, hingga umat umum. Pendaftaran dibuka secara terbuka, sehingga siapa pun dapat ambil bagian dalam peran-peran yang dihidupkan di sepanjang Jalan Salib. Selama empat minggu, para pemeran berlatih untuk membangun kekuatan emosi sekaligus kekompakan.
Antonius Dimas Surya Desba (21), mahasiswa Politeknik Negeri Madiun yang berperan sebagai Yesus mengaku tantangan terbesar ada pada adegan pencambukan. “Kami berusaha menampilkan se-realistis mungkin. Itu yang paling berat, karena harus benar-benar menggambarkan penderitaan,” ujarnya.
Meski masih terdapat kesalahan kecil saat pementasan, ia merasa lega seluruh proses panjang latihan akhirnya bisa ditampilkan dengan baik. “Ini pengalaman berharga. Pesannya, jangan takut atau malu untuk mencoba,” imbuhnya.
Terpisah, Romo Diakon Mikhael Varian Toar Derian menegaskan, pesan utama dari Jalan Salib bukan berhenti pada penderitaan, melainkan pada kasih yang melampaui segalanya. Hal itu selaras dengan tema Paskah tahun ini, yakni menjadi pribadi yang semakin dewasa dalam iman.
Ia berharap umat Katolik dan Kristiani dapat memaknai wafat dan kebangkitan Tuhan secara utuh. “Dari Jumat Agung kita belajar tentang pengorbanan, dan pada Paskah kita diajak membagikan sukacita kebangkitan kepada sesama,” pungkasnya.
(rams/kus/madiuntoday)