Inflasi Madiun Maret 0,49 Persen, Kenaikan Harga Pangan Dominan
MADIUN – Inflasi Kota Madiun pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,49 persen secara bulanan (month to month/mtm). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, inflasi tahunan (year on year/yoy) mencapai 1,00 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, Abdul Aziz, menyebutkan bahwa inflasi bulan ini masih terkendali meski terjadi peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri. “Inflasi bulan ini lebih rendah dibandingkan Maret 2024 dan 2025,” ujarnya.
Menurut Aziz, lonjakan harga dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat serta tingginya mobilitas selama periode mudik dan arus balik. Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah komoditas, terutama di sektor pangan dan transportasi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,37 persen, disusul sektor transportasi sebesar 0,10 persen. Komoditas yang mengalami kenaikan signifikan di antaranya daging ayam ras, tomat, bayam, dan kangkung. Di sektor transportasi, kenaikan tarif angkutan antarkota dan kendaraan sewa juga turut mendorong inflasi.
Selain itu, komoditas seperti beras, bensin, air kemasan, dan daging sapi ikut memberikan andil terhadap kenaikan harga. “Beras, bensin, air kemasan, dan daging sapi juga turut memicu inflasi,” jelasnya.
Di sisi lain, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas, seperti cabai rawit, ketimun, bawang putih, dan minyak goreng.
Secara regional, inflasi bulanan Kota Madiun tercatat lebih tinggi dibandingkan gabungan 11 kabupaten/kota di Jawa Timur sebesar 0,39 persen dan nasional 0,41 persen. Namun untuk inflasi tahunan, Madiun masih lebih rendah dibandingkan regional. “Y-on-y Madiun lebih rendah dari gabungan daerah,” tandasnya.
(Rams/kus/madiuntoday)