Radiasi Ponsel Kerap Dikhawatirkan, Begini Penjelasan Ilmiahnya



MADIUN - Radiasi dari ponsel kerap dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, mulai dari kanker hingga gangguan lainnya. Namun, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut belum memiliki dasar ilmiah yang kuat. Para ahli menegaskan, ponsel memang memancarkan radiasi, tetapi dalam tingkat yang sangat rendah.

Mengacu pada laporan Men’s Health (8/4) ponsel menghasilkan radiasi frekuensi radio (radiofrequency radiation). Jenis radiasi ini tergolong berenergi rendah dan juga ditemukan pada perangkat sehari-hari seperti televisi, microwave, hingga jaringan Wi-Fi.

Kekhawatiran muncul karena ponsel sering digunakan dekat kepala dalam waktu lama. Meski demikian, radiasi yang terbukti dapat merusak DNA dan memicu kanker adalah radiasi ionisasi, yang memiliki energi jauh lebih besar dibanding radiasi dari ponsel.

Berbagai studi telah dilakukan untuk meneliti kaitan penggunaan ponsel dengan risiko kanker. Salah satu penelitian besar yang didukung World Health Organization pada 2024 melibatkan hampir 5.000 responden.

Hasilnya menunjukkan tidak ada hubungan antara penggunaan ponsel dan peningkatan risiko kanker otak, termasuk pada pengguna jangka panjang lebih dari 10 tahun. “Itu adalah studi paling lengkap yang pernah dilakukan, dan hasilnya memberikan kabar baik bahwa ponsel tidak otomatis menyebabkan tumor otak,” ujar Herbert Newton.

Selain kanker, radiasi ponsel juga sempat dikaitkan dengan penyakit jantung. Namun, para ahli menilai hubungan tersebut belum didukung bukti yang memadai. Karishama Patwa menyebutkan bahwa hingga saat ini tidak ada data yang menunjukkan hubungan sebab-akibat antara radiasi ponsel dan penyakit kardiovaskular.

Meski tergolong aman dari sisi radiasi, penggunaan ponsel tetap perlu dibatasi. Paparan layar yang terlalu lama dapat memicu kelelahan mata, nyeri leher, serta gangguan postur. Selain itu, penggunaan berlebihan juga berisiko meningkatkan stres, kecemasan, hingga depresi.

Artinya, persoalan utama bukan pada radiasi, melainkan pada kebiasaan penggunaan ponsel itu sendiri.

Bagi yang ingin mengurangi paparan, ada langkah sederhana yang bisa dilakukan. Di antaranya menghindari terlalu sering menempelkan ponsel ke telinga saat menelepon, menggunakan speaker, atau berkomunikasi lewat pesan. Menjaga jarak ponsel dari tubuh juga dapat membantu meminimalkan paparan radiasi frekuensi radio.

Kesimpulannya, radiasi ponsel memang ada, tetapi tidak terbukti menyebabkan kanker maupun penyakit jantung. Sejumlah penelitian menunjukkan risikonya sangat kecil, bahkan nyaris tidak ada. Karena itu, perhatian utama sebaiknya difokuskan pada penggunaan ponsel yang bijak dan tidak berlebihan.

(rams/kus/madiuntoday)