Merasa Tak Pantas Padahal Mampu? Gen Z Rentan Terjebak Imposter Syndrome
MADIUN - Persaingan kerja yang semakin ketat membuat sebagian generasi muda diliputi rasa ragu terhadap kemampuan diri. Fenomena ini dikenal sebagai imposter syndrome, yang kini banyak dialami oleh kalangan profesional muda, khususnya Gen Z.
Psikolog Madiun, Andi Cahyadi, menjelaskan bahwa imposter syndrome merupakan kondisi ketika seseorang merasa tidak layak atas pencapaian yang diraih, meski sebenarnya memiliki kemampuan yang cukup.
“Orang dengan kondisi ini kerap merasa dirinya ‘tidak benar-benar mampu’ dan khawatir suatu saat akan ketahuan, padahal secara nyata mereka kompeten,” ujarnya seperti yang dikutip dari laman rri.co.id.
Ia menambahkan, kondisi tersebut banyak dialami oleh Gen Z yang baru memasuki dunia kerja. Pada fase ini, mereka masih dalam tahap beradaptasi sekaligus berusaha membuktikan diri. Selain itu, tekanan dari lingkungan serta ekspektasi tinggi, termasuk dari media sosial, turut memperparah kondisi tersebut.
“Sering kali orang membandingkan diri dengan orang lain, sehingga merasa tertinggal. Padahal setiap individu punya waktunya masing-masing,” jelasnya.
Beberapa tanda yang umum muncul antara lain rasa tidak percaya diri, kesulitan menerima pujian, menganggap kesuksesan hanya faktor keberuntungan, hingga rasa takut gagal yang berlebihan.
Jika dibiarkan, imposter syndrome bisa berdampak pada kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, hingga menurunnya rasa percaya diri dalam pekerjaan.
Meski begitu, Andi menegaskan bahwa kondisi ini bukan gangguan permanen, melainkan pola pikir yang masih bisa diubah. Ia menyarankan untuk mulai menyadari bahwa perasaan tersebut wajar, serta belajar menghargai pencapaian diri sendiri.
Selain itu, penting untuk membangun lingkungan yang suportif dan terbuka berdiskusi dengan mentor maupun rekan kerja.
“Jangan terlalu menekan diri sendiri. Setiap proses butuh waktu untuk berkembang,” pungkasnya.
(bip/kus/madiuntoday)