Mengapa Kebaya dan Sanggul Selalu Hadir di Hari Kartini? Ini Penjelasan Lengkapnya



MADIUN - Suasana peringatan Hari Kartini tampak semarak di SMPN 1 Kota Madiun, Senin (21/4). Para siswa dan guru kompak mengenakan kebaya, bersanggul, serta busana adat lainnya. Pemandangan ini menjadi potret nyata bagaimana tradisi tersebut terus hidup dan melekat dalam peringatan Hari Kartini di berbagai daerah.

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kartini dengan berbagai cara. Salah satu yang paling mencolok adalah tradisi perempuan mengenakan kebaya dan bersanggul. Pemandangan ini kerap terlihat di sekolah, kantor pemerintahan, hingga berbagai komunitas, seolah menjadi identitas yang melekat dalam peringatan tersebut.

Tradisi ini bukan muncul tanpa alasan. Ada jejak sejarah, proses budaya, hingga kebiasaan sosial yang membuat kebaya dan sanggul identik dengan Hari Kartini.

Secara historis, Raden Ajeng Kartini hidup pada masa ketika kebaya merupakan busana sehari-hari perempuan Jawa, khususnya kalangan priyayi. Dalam berbagai dokumentasi foto, Kartini hampir selalu digambarkan mengenakan kebaya lengkap dengan tatanan rambut sanggul. Citra visual ini kemudian melekat kuat dan terus direproduksi lintas generasi.

Seiring waktu, kebaya tidak hanya dipandang sebagai pakaian tradisional, tetapi juga berkembang menjadi simbol budaya. Setelah Indonesia merdeka, kebaya dianggap merepresentasikan perempuan Indonesia yang anggun, sopan, dan berakar pada nilai-nilai tradisi. Dalam konteks peringatan Hari Kartini, penggunaan kebaya menjadi bentuk penghormatan sekaligus ekspresi kebanggaan terhadap budaya nasional.

Faktor lain yang turut menguatkan identitas ini adalah peran pendidikan dan kebiasaan sosial. Sejak lama, sekolah dan instansi membudayakan peringatan Hari Kartini melalui lomba atau kegiatan mengenakan pakaian adat, terutama kebaya. Tradisi ini terus diwariskan hingga akhirnya menjadi praktik yang dianggap “wajar” dan melekat dalam perayaan tahunan.

Di sisi lain, kebaya juga berfungsi sebagai simbol visual yang sederhana untuk merepresentasikan gagasan besar Kartini. Nilai perjuangan seperti emansipasi, kesetaraan, dan pentingnya pendidikan bersifat abstrak. Karena itu, kebaya dan sanggul hadir sebagai representasi yang mudah dikenali untuk menggambarkan “semangat Kartini”.

Jika ditelusuri lebih jauh, kebaya sendiri memiliki sejarah panjang. Sejarawan Denys Lombard menyebutkan bahwa istilah “kebaya” berasal dari bahasa Arab “kaba” yang berarti pakaian. Catatan sejarah juga menunjukkan bahwa kebaya telah digunakan sejak abad ke-15 di lingkungan kerajaan Jawa, awalnya oleh kalangan bangsawan sebelum kemudian menyebar ke masyarakat luas.

Perkembangannya turut dipengaruhi oleh masuknya budaya dan agama, termasuk Islam, yang mendorong perubahan model pakaian menjadi lebih tertutup. Dari sinilah lahir berbagai bentuk kebaya, termasuk model yang kini dikenal sebagai “kebaya Kartini” dengan ciri kerah berbentuk V, potongan longgar, dan penggunaan bros di bagian dada.

Meski kebaya menjadi simbol yang kuat, esensi Hari Kartini sejatinya tidak berhenti pada pakaian semata. Peringatan ini juga kerap diwarnai dengan penggunaan berbagai pakaian adat dari seluruh daerah di Indonesia, sebagai bentuk penegasan bahwa perjuangan Kartini melampaui batas budaya dan wilayah.

Lebih dari itu, nilai utama yang perlu dihidupkan adalah semangat perjuangan Kartini tentang kesetaraan hak perempuan, akses pendidikan, serta keberanian berpikir maju. Dengan demikian, tradisi berkebaya dan bersanggul tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga pengingat akan pentingnya melanjutkan semangat perubahan yang masih relevan hingga hari ini.

(ws hendro/kus/madiuntoday)