Sentuhan Kartini di Dapur Madiun, Mbak Ully Ubah Jamu Tradisional Jadi Tren Anak Muda
MADIUN – Dari dapur sederhana di Jalan Swolobumi Gang Saptaloka Nomor 3, lahir racikan jamu yang kini tidak lagi dipandang sekadar minuman tradisional. Berangkat dari kreativitas tersebut, Ully Haque Usianti atau yang akrab disapa Mbak Ully berhasil mengangkat citra jamu menjadi produk kekinian yang diminati berbagai kalangan, terutama anak muda.
Perjalanan itu tidak lepas dari semangat Kartini yang menjadi inspirasi dalam setiap langkahnya. Perempuan 36 tahun lulusan Teknik Elektro Universitas Indonesia ini memaknai emansipasi bukan hanya soal kesetaraan, tetapi juga tentang keberanian untuk berkarya serta menciptakan nilai dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar.
Semua bermula pada tahun 2020, ketika pandemi Covid-19 melanda. Berawal dari kebiasaan mengonsumsi minuman herbal, Mbak Ully kemudian mulai meracik jamu sederhana berbahan sereh, jahe, lemon, dan madu. Namun, dari proses percobaan tersebut, muncul sebuah temuan menarik ketika bunga telang yang ia campurkan menghasilkan warna biru keunguan yang unik tanpa mengubah rasa minuman.
Sejak saat itu, respons positif mulai berdatangan. Tidak hanya menyegarkan, racikan jamu tersebut juga dinilai menarik secara visual. Dari sinilah, Mbak Ully semakin serius mengembangkan berbagai varian seperti beras kencur, kunyit asem, temulawak, hingga inovasi modern seperti teh telang celup dan wedang uwuh.
Seiring berkembangnya usaha, ia kemudian memperluas lini bisnis ke sektor catering. Hingga kini, usahanya telah melibatkan delapan karyawan yang sebagian besar berasal dari wilayah sekitar seperti Demangan, Josenan, dan Banjarejo.
“Perempuan saat ini harus memiliki karya, karena tidak bisa hanya bergantung. Dengan usaha ini, setidaknya kita bisa membantu menguatkan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Menariknya, jamu yang selama ini identik dengan generasi lama justru mampu diterima dengan baik oleh anak muda. Hal ini tidak terlepas dari tampilan yang lebih modern, rasa yang ringan, serta pemanfaatan pemasaran digital yang lebih aktif. Bahkan, jangkauan pemasarannya kini telah meluas hingga berbagai kota di Pulau Jawa seperti Semarang dan Jakarta.
“Sekarang teknologi sudah sangat canggih, jadi harus dimanfaatkan untuk branding dan pemasaran. Jangan hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk menghasilkan,” tambahnya.
Meski demikian, perjalanan usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Tantangan seperti kenaikan harga bahan baku, mulai dari jahe, kencur, hingga plastik kemasan, menjadi hambatan yang harus dihadapi. Namun demikian, hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus berinovasi dan bertahan.
Bagi Mbak Ully, meneladani semangat Kartini bukan hanya sekadar mengenang sejarah, melainkan tentang bagaimana perempuan mampu berdiri, berkarya, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Dari dapur kecil di Madiun, ia membuktikan bahwa jamu tradisional tidak harus tertinggal oleh zaman, melainkan bisa bertransformasi menjadi tren baru di tangan generasi muda. (dspp/im/madiuntoday)