Dari Keluhan Kesehatan, Susu Kefir Rumahan Kini Jadi Peluang Usaha Menjanjikan
MADIUN – Berawal dari keluhan kesehatan yang tak kunjung sembuh, Ardhiana Septianingrum tak menyangka langkah kecilnya mencoba minuman fermentasi justru berujung pada peluang usaha. Kini, perempuan 30 tahun itu mengembangkan produksi susu kefir rumahan di Jalan Campursari III, Sogaten, yang semakin diminati seiring tren gaya hidup sehat di masyarakat.
Dhiana, sapaan akrabnya, mengenang masa ketika ia harus bolak-balik berobat karena gangguan pencernaan dan asam lambung yang sering kambuh. Berbagai obat telah dicoba, namun hasilnya belum memuaskan. Hingga akhirnya sang suami menyarankan untuk mencoba kefir, minuman fermentasi yang sebelumnya sempat ia abaikan.
“Saya dulu sakit, berobat ke dokter. Obatnya habis, kambuh lagi. Akhirnya disarankan suami untuk coba kefir. Awalnya saya mikir, masa sih yang rasanya asam bisa buat lambung enak. Tapi setelah seminggu coba, kok badan terasa lebih enak. Akhirnya saya lanjut terus ,” ujarnya, Jumat (24/4).
Dari sekadar konsumsi pribadi selama tiga tahun, Dhiana mulai tertarik memproduksi sendiri ketika pemasok kefir yang biasa ia beli berhenti berjualan. Kondisi itu justru mendorongnya untuk mencoba membuat sendiri. Berbekal bibit kefir dari Sidoarjo dan panduan sederhana, Dhiana mulai merintis produksi rumahan. Dari yang awalnya hanya satu liter, kini ia mampu memproduksi hingga delapan liter dalam sekali proses.
Bahan baku susu ia peroleh dari peternak lokal. Susu sapi diambil dari wilayah Grape, sementara susu kambing etawa didatangkan dari luar daerah. Meski terlihat sederhana, proses pembuatan kefir membutuhkan ketelitian dan kebersihan yang terjaga.
“Bibit kefir 50 gram untuk 1 liter susu. Dicampur susu segar, lalu difermentasi minimal 24 jam. Kalau saya biasanya 36 jam agar hasilnya lebih maksimal, kemudian disaring ke dalam botol kemasan. Yang paling laris susu sapi karena harganya lebih terjangkau. Kalau susu kambing biasanya diminati yang usia lebih tua,” ungkapnya.
Menurut Dhiana, kefir kaya akan sekitar 50 hingga 60 spesies bakteri baik yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan probiotiknya dinilai mampu membantu melancarkan pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, sekaligus memenuhi kebutuhan vitamin harian. Bahkan, anak usia satu tahun ke atas sudah bisa mengonsumsi kefir dengan takaran satu sendok setiap hari untuk membantu melancarkan buang air besar.
Dalam pemasarannya, ia menjual kefir dalam dua ukuran, yakni 250 ml dan 500 ml. Harga untuk susu sapi dibanderol Rp20 ribu hingga Rp35 ribu, sementara kefir susu kambing berkisar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Produksi dilakukan dua hari sekali dengan kapasitas 8 liter, dan hampir selalu habis terjual malah sering kewalahan.
Pelanggan Dhiana pun terus bertambah, tak hanya dari Madiun tetapi juga merambah luar kota hingga Jakarta Barat. Di tengah tingginya permintaan tersebut, Dhiana mengaku masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari ketersediaan bahan baku, keterbatasan ruang penyimpanan, hingga kenaikan harga kemasan.
Meski begitu, Dhiana menikmati setiap proses yang dijalaninya. Omsetnya saat ini mencapai 7 juta per bulan. Usaha yang awalnya sekadar coba-coba kini justru memberinya kepuasan tersendiri, terutama ketika melihat pelanggannya merasakan manfaat dari susu kefir.
“Ini sebenarnya iseng saja awalnya. Tapi saya senang karena bisa membantu orang lain yang punya keluhan kesehatan. Harapannya masyarakat bisa lebih sadar bahwa tubuh kita bisa sehat dengan nutrisi yang baik, tidak selalu bergantung pada obat pabrikan,” pungkasnya.
(Bip/rat/Madiuntoday)