Belajar dari Nol, Puluhan Siswa Antusias Ikuti Pembinaan Karawitan
MADIUN – Tabuhan gamelan terdengar bersahutan, pelan lalu menguat mengikuti irama di Hall Stadion Wilis Kota Madiun, Selasa (28/4). Bunyi bonang dan saron yang belum sepenuhnya sempurna justru menjadi bagian dari proses belajar para siswa.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembinaan intensif yang digelar Disbudparpora. Puluhan siswa dari tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama antusias mempelajari gamelan, bahkan dari nol.
Pelatih karawitan, Aditya Krisna, menyebut kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk menggugah kembali minat sekolah dalam mengaktifkan ekstrakurikuler karawitan yang belakangan mulai ditinggalkan.
“Pembinaan karawitan ini untuk siswa SD dan SMP se-Kota Madiun, yang nantinya akan dilombakan agar anak-anak mencintai seni tradisional, khususnya disini karawitan,” ujarnya.
Menurut Aditya, pembinaan ini tidak hanya sekadar persiapan lomba, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian budaya. Ia berharap siswa tidak hanya bisa menabuh gamelan, tetapi juga mencintai seni tradisional yang sekarang mulai ditinggalkan.
“Pembinaan ini tidak hanya untuk lomba, tetapi juga sebagai upaya pelestarian seni tradisional yang mulai ditinggalkan.”
Sebanyak 21 sekolah tercatat mengikuti pembinaan ini secara bergantian, dengan empat sekolah dijadwalkan setiap harinya. Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Banyak peserta baru pertama kali mengenal gamelan, sehingga pelatih harus memulai dari dasar dalam waktu yang relatif singkat.
“Kita mulai dari nol. Anak-anak hampir 85 persen banyak yang belum bisa sama sekali dan harus bisa dalam waktu sekitar dua bulan sebelum dilombakan,” jelasnya.
Keterbatasan waktu latihan juga menjadi kendala. Setiap sekolah rata-rata hanya mendapat jadwal latihan satu kali dalam sepekan. Karena itu, pihak pelatih mendorong sekolah untuk melanjutkan latihan secara mandiri di sekolah masing-masing dengan pola yang sama.
Meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan, antusiasme siswa tetap tinggi. Rencananya, lomba seni tersebut akan digelar pada bulan Juli mendatang, dengan melibatkan berbagai cabang kesenian lainnya seperti mocopat, baca puisi, teater, melukis, poster, menari, hingga paduan suara. Untuk seni pertunjukan nantinya akan berlangsung di PBC, sementara cabang seni lainnya digelar di Stadion Wilis, Wisma Haji, dan Taman Bantaran.
Melalui kegiatan ini, diharapkan karawitan kembali bergeliat di sekolah-sekolah dan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga peduli terhadap pelestarian budaya daerah.
(Dspp/rat/madiuntoday)