Mengenal D’Jamoe, Produk Jamu Tradisional Warga Taman yang Mendunia Kerap Dikunjungi Untuk Belajar, Jadi Potensi Wisata Kelurahan
MADIUN – Di Kelurahan Taman terdapat produksi jamu yang sudah mendunia. D’Jamoe namanya. Jamu olahan Vivie Al Rizky itu sudah eskpor ke Afrika Selatan hingga Washington, Amerika. Tempat produksinya juga kerap dikunjungi untuk belajar. Dari siswa lokal, Tangerang, sampai bule dari London. Tak ayal, tempatnya bak wisata unggulan kelurahan. Seperti apa?
Pagi itu, puluhan siswa memadati tempat produksi D’Jamoe di Jalan Ranu Menggalan Kelurahan Mojorejo. Mereka merupakan siswa-siswi SMPN 13 Kota Madiun yang tengah melaksanakan outdoor learning. Mereka tidak hanya melihat. Namun, praktik langsung membuat jamu. Ya, siempunya tempat memang membuka pintu lebar-lebar bagi yang mau belajar.
‘’Kita memang ada beberapa program kunjungan. Ada D’jamoe Visit dan D’jamoe Class. Kalau yang hari ini tadi anak-anak mengikuti Djamoe Class,’’ kata Vivie.
Sesuai namanya, D’jamoe Visit berarti hanya melihat proses produksi. Sedang, D’jamoe Class, peserta diajak untuk meracik atau membuat jamu. Kegiatan semakin seru lantaran dilombakan. Peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk membuat jamu. Hasilnya akan dinilai. Jamu yang dirasa paling enak, jadi pemenangnya. Hal itu dilakukan agar peserta semakin tertantang. Saat meracik pun tak asal-asalan. Tetapi dilakukan dengan serius. Hal itu dirasa lebih mengena. Apalagi untuk usia pelajar.
‘’Bikin jamu itu sebenarnya simpel. Seperti tadi, dua menit selesai. Dari yang dibuat tadi, ada satu yang pedesnya pas segernya juga dapat,’’ ungkapnya.
Vivie memang tak pelit berbagi ilmu. Harapannya, semakin mengenalkan jamu kepada generasi muda. Diakuinya, mengajak remaja untuk minum jamu cukup sulit. Karenanya, dia membuka program D’jamoe Class tersebut untuk mengenalkan dan menumbuhkan kecintaan remaja kepada jamu. Selain menyehatkan, minuman jamu merupakan warisan budaya tak benda yang ditetapkan Unesco pada 2023 lalu. Artinya, jamu bukan minuman biasa.
‘’Tetapi memang minuman ini untuk sekarang kalah populer dengan minuman-minuman lain seperti boba dan lainnya. Padahal jamu manfaatnya luar biasa,’’ imbuhnya.
Kunjungan untuk D’jamoe Class tersebut bukan kali pertama. Tempat usahanya sudah kerap dikunjungi pelajar dari berbagai sekolah untuk belajar. Seperti dari SMP Tara Salvia Tangerang yang sudah berkunjung dua tahun berturut. Selain itu, juga ada kunjungan PT Pertamina dari Cirebon. Bahkan, juga pernah dikunjungi bule dari London. Charlotte namanya.
‘’Saat ada kunjungan dari PT Pertamina Cirebon itu kami juga mengundang pak lurah dan camat untuk ikut melihat bagaimana kami memberikan edukasi,’’ ujarnya.
Karenanya, tak ayal tempat produksinya bak wisata unggulan kelurahan. Hal itu wajar mengingat sudah banyaknya yang datang berkunjung. Bukan satu dua orang. Tetapi langsung puluhan sekali kunjungan. Seperti dari Tangerang yang datang dengan sekitar 70 siswa. Hal itu tentu menyimpan potensi tersendiri bagi Kelurahan Mojorejo. Kunjungan bisa semakin optimal jika dipadukan dengan program lain dari wilayah Kelurahan Mojorejo.
Keberhasilan D’jamoe tentu tidak datang begitu saja. Vivie memulai usahaya pada 2015 silam. Sebelas tahun bertahan dari gempuran berbagai minuman kekinian, tentu bukan hal mudah. Namun, hal itu justru menjadi penyemangat tersendiri agar bisa terus eksis. Sampai akhirnya, produk D’Jamoe tidak hanya di tingkat lokal. Pada 2024 lalu, produknya lolos kurasi untuk ekspor yang difasilitasi Pemerintah Kota Madiun melalui Dinas Tenaga Kerja, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah.
‘’Sementara baru dua negara. Kami sudah mengirim tiga kali ke Washington dan Afrika Selatan,’’ ungkapnya.
Vivie berharap keberadaan jamu bisa terus eksis. Jamu merupakan warisan budaya yang wajib dijaga. Hal itu akan sulit diwujudkan tanpa terus dikenalkan kepada generasi muda penerus bangsa. Karenanya, dia tak pernah keberatan bagi siapa saja yang mau belajar. Demi jamu yang terus eksis ke depan. (ws hendro/agi/madiuntoday)