Debut Perdana O2SN Panjat Tebing Kota Madiun, Puluhan Pelajar Adu Nyali Taklukkan Dinding Panjat 15 Meter
MADIUN – Jemari para peserta mencengkeram erat pijakan demi pijakan dinding panjat setinggi 15 meter di Stadion Wilis Kota Madiun, Selasa (12/5). Kaki mereka perlahan mencari tumpuan, sementara tubuh bergantung beberapa meter dari tanah dengan napas yang mulai tersengal. Meski sempat gemetar dan takut terjatuh, para peserta tetap mencoba menaklukkan dinding panjat dalam debut pertama cabang panjat tebing di ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Kota Madiun.
Puluhan pelajar SMP tampak menunjukkan kemampuan terbaik mereka di arena panjat tebing. Sebagian bahkan mengaku baru pertama kali mencoba olahraga ekstrem tersebut.
Koordinator Pelaksana O2SN Panjat Tebing Kota Madiun, Dwijo Kuncoro, mengatakan debut perdana cabang panjat tebing dalam O2SN tahun 2026 ini diikuti siswa-siswi SMP se-Kota Madiun yang terdiri dari 25 peserta putra dan 17 peserta putri.
Dwijo menjelaskan, pertandingan dibagi dalam dua nomor, yakni speed dan lead. Nomor speed mengutamakan kecepatan peserta mencapai puncak lintasan, sedangkan nomor lead menguji kemampuan peserta mencari jalur terbaik dengan penilaian berdasarkan capaian ketinggian.
“Ini pertama kalinya panjat tebing dipertandingkan di O2SN Kota Madiun. Ada dua nomor yang dilombakan, yakni speed dan lead. Kalau speed itu siapa tercepat dia pemenangnya. Sedangkan lead peserta mencari jalur dan dinilai sampai ketinggian berapa yang bisa dicapai,” ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan cabang baru tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satunya karena olahraga panjat tebing masih belum terlalu dikenal di lingkungan sekolah. Karena itu, berbagai koordinasi dilakukan bersama Dinas Pendidikan, MKKS, hingga pihak sekolah agar pelaksanaan tetap berjalan maksimal dan peserta tertarik mengikuti kompetisi.
“Karena baru pertama kali, olahraga ini masih kurang memasyarakat. Kemudian aturan dan syaratnya juga masih baru dipahami sekolah-sekolah,” katanya.
Meski baru pertama dipertandingkan di O2SN, Dwijo menyebut Kota Madiun sebenarnya telah memiliki pembinaan rutin panjat tebing dengan fasilitas yang cukup memadai. Ia berharap debut perdana ini menjadi awal lahirnya atlet-atlet muda Kota Madiun yang mampu bersaing hingga tingkat nasional bahkan internasional. Nantinya, juara pertama putra dan putri akan mendapat pembinaan khusus selama sekitar tiga minggu sebelum mewakili Kota Madiun di tingkat Provinsi Jawa Timur.
“Harapannya olahraga panjat tebing semakin dikenal masyarakat dan muncul bibit atlet yang bisa mengharumkan nama Indonesia,” tambahnya.
Di balik ketatnya persaingan, cerita menarik datang dari salah satu peserta pemula. Nancy, siswi SMPN 6 Kota Madiun, mengaku sempat gemetar saat mulai memanjat.
“Ndredek banget. Tangannya sakit karena terlalu bergantung sama tangan. Tadi juga takut jatuh karena tangan enggak kuat. Tapi seru banget,” katanya.
Ia berharap ke depan panjat tebing bisa menjadi kegiatan pembinaan di sekolah agar lebih banyak pelajar bisa mencoba olahraga tersebut.
(Bip/rat/madiuntoday)