Nostalgia di Kota Madiun, Edy Rahmayadi: Ini Kampung Kedua Saya




MADIUN – Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi ternyata punya kedekatan dengan Kota Madiun. Purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat itu menghabiskan masa kecil di Kota Pendekar. Bahkan, dia menamatkan pendidikan Sekolah Dasar (SD) di SDN 01 Pandean. Edy yang baru saja menghadiri resepsi Pernikahan Kaesang-Erina di Solo itu menyempatkan mampir di Kota Madiun, Senin (12/12). Dia sengaja mampir untuk bernostalgia ke sejumlah tempat. Mulai tempat tinggalnya di Jalan Kapuas 49 juga tempat-tempat yang pernah menyimpan kenangan tersendiri baginya. 


‘’Saya salut. Khususnya sosial budaya di Kota Madiun menggembirakan saya,’’ katanya disela pertemuan dengan Wali Kota Madiun, Maidi di Ngrowo Bening Edupark.  


Edy menyebut dia pernah tinggal di Kota Madiun mulai 1965 hingga 1973. Ngrowo Bening merupakan salah satu tempatnya bermain. Dia mengaku kagum dengan perubahan sekarang. Tak heran, Edy menyampaikan terima kasih kepada Wali Kota Maidi yang sudah membangun Kota Madiun menjadi luar biasa. Dia juga berharap Kota Madiun bisa terus maju dan berkembang. 


‘’Ngrowo ini tempat main saya waktu kecil. Sudah berubah seperti ini. Terima kasih pak wali. Kota ini kampung kedua saya,’’ tegas mantan Ketum PSSI itu. 


Edy yang menginap di Aston Hotel tersebut sengaja bernostalgia di Kota Madiun dengan berjalan kaki. Kali pertama, Edy mengunjungi SMPN 2 Kota Madiun. Edy memang pernah bersekolah di SMPN 2 kendati cuma sebentar. Dia harus mengikuti sang ayah yang bertugas di tempat lain. Orang tua Edy dulu memang bertugas di Lanud Iswahjudi. Setelahnya, dia mengunjungi Ngrowo Bening dan bertemu Wali Kota Maidi. Edy juga mengunjungi bekas tempat tinggalnya di Jalan Kapuas dan bersilaturahmi dengan kerabat di sana. Terakhir, Edy mengunjungi SDN 01 Pandean dan Stadion Wilis untuk menyaksiakan Kejurnas Drumband 2022. 


Marganingsih, salah seorang kerabat Edy di Kota Madiun menyebut Edy kecil sempat tinggal bersama keluarganya dahulu. Edy bersama kedua orang tuanya pada awalnya kontrak di depan rumah Suyono, paman Marganingsih, di Jalan Kapuas tersebut. Marganingsih pun juga tinggal di rumah itu karena sang paman tidak memiliki anak. Karena ada permasalahan ekonomi, keluarga Edy akhirnya turut tinggal di rumah Suyono tersebut. 


‘’Dulu ya main bareng. Main gangsingan, layangan. Yang buatkan ya bapakku (alm Suyono),’’ kata Marganingsih. 


Bahkan, Marganisngih sempat mendengar cerita dari ibunda Edy yang mengatakan Edy kecil mengenal Suyono tersebut sebagai kakeknya. Dia memang tinggal di sana sejak masih belum sekolah. Pun, saat Edy mengenyam pendidikan militer, dia tidak pulang ke orang tuanya sewaktu libur. Dia lebih memilih pulang ke Jalan Kapuas. Salah satunya, juga lantaran keterbatasan biaya. 


‘’Kalau pulang ke Sumatera kan butuh biaya besar. Jadi kalau libur (pendidikan), pulangnya ke sini,’’ ujarnya sembari menyebut Edy sempat mengikuti hingga tiga kali tes masuk militer. 


Marganingsih menyebut Edy pribadi yang selalu menghargai jasa atau bantuan orang lain. Edy masih menjalin komunikasi dengan keluarga Marganingsih biarpun sudah menjadi pejabat penting di negeri ini. Edy juga mengungkapkan ingin berkunjung ke Kota Madiun saat berkomunikasi lewat telepon. Keinginan itu akhirnya terwujud sekarang.


‘’Sering telepon, bilang kalau mau ke sini. Tapi masih sibuk. Jadi tidak lupa dengan keluarga di sini, padahal sebenarnya tidak ada hubungan keluarga sama sekali,’’ pungkas Marganingsih yang juga mantan pensiunan Dinkes tersebut. (ws hendro/rams/agi/madiuntoday)