Tekan Penularan HIV di Warga Binaan, Petugas Rutin Cek VCT di Lembaga Pemasyarakatan
MADIUN – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun kembali melakukan mobile voluntary counselling and testing (VCT) dan juga pos pembinaan terpadu (Posbindu) Penyakit Tidak Menular (PTM) di lembaga pemasyarakatan (Lapas). Kegiatan rutin tersebut dilakukan guna memeriksa kesehatan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
‘’Kegiatan ini sudah sejak Januari dan kita lakukan secara bertahap. Kemarin kami sudah lakukan di Lapas Kelas I Madiun. Nah, saat ini kami geser ke Lapas Pemuda kelas II A Madiun,’’ kata Subkoordinator Pengelolaan Pelayanan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun Tri Wahyuning Novitasari, Jumat (10/2).
WBP, lanjutnya, merupakan salah satu populasi kunci standar pelayanan minimal program HIV. Karenanya, WBP wajib dilakukan testing HIV minimal sekali dalam setahun. Di Lapas Kelas I Madiun tersebut setidaknya sudah dilakukan pemeriksaan kepada 750 lebih WBP. Sedang, di Lapas Pemuda Kelas IIA baru berjalan tiga kali pemeriksaan dengan sasaran sebanyak 500 lebih WBP. Vita –sapaannya- menyebut pemeriksaan memang dilakukan bertahap dengan rata-rata 200 WBP dalam sehari.
‘’Jadi memang kita jadwalkan minimal seminggu sekali ada pemeriksaan sampai semua WBP tuntas kita lakukan pemeriksaan,’’ ungkapnya.
Dari hasil pemeriksaan pihaknya, setidaknya ditemukan tiga orang WBP yang tercatat positif HIV. Mereka yang positif tersebut akan diberikan akses yntuk mendapatkan pengobatan. Pihaknya akan bekerja sama dengan klinik kesehatan lapas untuk memberikan obat antiretroviral (ARV) yang wajib diminum seumur hidup.
‘’Untuk HIV ini kan tidak serta merta menular melalui udara seperti halnya TBC. Jadi warga binaan yang positif HIV ini tetap bisa tinggal dengan warga binaan lain tetapi kita berikan pembinaan khusus,’’ terangnya.
Kegiatan tersebut rutin digelar Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun setiap tahun. Tidak hanya kepada WBP tetapi juga kepada populasi beresiko tinggi lainnya. Di antaranya, waria, lelaki seks dengan lelaki (LSL), wanita pekerja seksual (WPS), pengguna Napza suntik (penasun), dan lainnya. Upaya itu dilakukan untuk menekan angka penularan HIV AIDS di Kota Madiun.
‘’Mereka yang beresiko ini kadang tidak sadar sudah terjangkit. Kalau dapat segera diketahui, bisa diberikan obat untuk menekan virus HIV agar tidak aktif di dalam tubuh penderita. Selain itu, juga bisa menekan penularan kepada manusia yang lain,’’ pungkasnya. (rams/agi/madiuntoday)