Hadapi Persaingan Kerja, Pemkot Madiun Cetak Tenaga Kerja Siap Pakai
MADIUN – Menekan angka pengangguran tidak cukup hanya dengan membuka lowongan kerja. Pemerintah Kota Madiun kini fokus mencetak tenaga kerja siap pakai melalui pelatihan vokasi berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha. Langkah ini menjadi strategi untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal di tengah persaingan kerja yang semakin ketat.
Kepala Disnaker KUKM Kota Madiun, Ahsan Sri Hasto mengatakan pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan pasar kerja yang berkembang secara dinamis. Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga keterampilan yang dapat langsung digunakan saat memasuki dunia kerja.
"Tujuannya meningkatkan kapasitas dan kompetensi masyarakat Kota Madiun agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pengembangan ekonomi dan memenuhi kebutuhan pasar kerja," ujarnya.
Pelatihan tahun ini dibagi dalam empat bidang, yakni barber, mixology, pengelasan, serta digital administrator officer. Total sebanyak 72 peserta mengikuti pelatihan.
Pemilihan bidang pelatihan tersebut bukan tanpa alasan. Seluruhnya merupakan sektor yang saat ini memiliki kebutuhan tenaga kerja cukup tinggi di Kota Madiun.
Upaya peningkatan kompetensi tenaga kerja tersebut juga didukung capaian program serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2025, Disnaker KUKM menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi dalam dua tahap dengan total 291 peserta. Sebanyak 274 peserta atau sekitar 94 persen berhasil mendapatkan pekerjaan. Sementara pada 2024, seluruh 274 peserta pelatihan berhasil terserap di dunia kerja.
Senada dengan itu, Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun, menyebut pelatihan kompetensi menjadi salah satu instrumen penting untuk menurunkan tingkat pengangguran terbuka yang masih berada di angka 4,29 persen atau sekitar 8.000 orang. Menurutnya, kebutuhan dunia kerja saat ini lebih menitikberatkan pada keterampilan yang dimiliki pencari kerja. Karena itu, pelatihan vokasi menjadi jembatan antara kebutuhan industri dan kesiapan tenaga kerja lokal.
"Banyak perusahaan menanyakan kompetensinya apa, kemampuan atau skill-nya apa. Karena itu pelatihan ini penting untuk menambah kemampuan peserta agar lebih siap masuk dunia kerja," katanya.
Plt wali kota menambahkan, pola pelatihan yang diterapkan saat ini dibuat lebih aplikatif dengan komposisi sekitar 70 persen praktik dan 30 persen teori. Model tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang benar-benar siap kerja sejak hari pertama setelah menyelesaikan pelatihan.
Tak berhenti pada proses pelatihan, Pemkot Madiun juga menyiapkan pendampingan lanjutan dengan mempertemukan peserta kepada perusahaan maupun peluang usaha yang relevan. Bahkan, pemerintah menargetkan seluruh peserta angkatan tahun ini sudah bekerja atau membuka usaha sendiri dalam waktu maksimal enam bulan setelah pelatihan berakhir.
"Kami ingin pelatihan ini tidak berhenti pada sertifikat. Yang terpenting adalah bagaimana peserta bisa terserap kerja atau berwirausaha sehingga angka pengangguran di Kota Madiun terus menurun," tandasnya.
Masyarakat yang ingin mengikuti program serupa dapat memantau informasi jadwal, jenis pelatihan, dan pendaftaran melalui akun Instagram maupun situs resmi Disnaker KUKM Kota Madiun.
(Bip/rat/Madiuntoday)