Inflasi Kota Madiun Naik, TPID Perkuat Pasokan Cabai dan Bawang Merah



MADIUN – Harga cabai dan bawang merah kembali membuat inflasi Kota Madiun naik pada Mei 2026. Kondisi tersebut mendorong Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Madiun memperkuat sejumlah langkah pengendalian harga, mulai dari kerja sama pasokan hingga operasi pasar murah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, inflasi Mei 2026 secara bulanan (month to month/m-to-m) mencapai 0,35 persen. Sementara inflasi tahunan (year on year/y-on-y) tercatat 3,22 persen, menjadi yang tertinggi dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir.

Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi adalah cabai merah dengan kenaikan harga 30,76 persen, disusul cabai rawit 22,31 persen.

Menyikapi hal tersebut, Kepala Bagian Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Madiun, Danang Novianto, mengatakan pemerintah terus memperkuat skema Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas pangan.

Menurutnya, kerja sama antarpemerintah daerah tetap dilakukan. Namun, dalam pelaksanaannya, pola kerja sama langsung antar pelaku usaha dinilai lebih efektif.

"Kota Madiun terus menjalin kerja sama Government to Government (G-to-G) dengan daerah penghasil. Namun, dalam eksekusi lapangan, skema yang paling efektif adalah mendorong kerja sama langsung antar pedagang atau Business to Business (B-to-B) agar distribusi komoditas bisa berjalan lebih cepat, taktis, dan fleksibel saat terjadi gejolak harga," ujarnya.

Selain memastikan pasokan tetap tersedia, TPID juga berupaya menjaga efisiensi distribusi barang dari daerah penghasil menuju Kota Madiun.

Danang menjelaskan perbedaan harga cabai maupun bawang merah sebenarnya tidak terlalu besar antara tingkat petani dan konsumen. Karena itu, perhatian pemerintah saat ini lebih difokuskan pada stabilitas biaya logistik.

"Fokus pemerintah daerah saat ini adalah menjaga kestabilan ongkos logistik agar efisiensi harga dari tingkat produsen tetap terjaga hingga sampai ke tangan masyarakat," katanya.

Langkah lain yang terus dilakukan adalah operasi pasar murah. Program tersebut dinilai masih efektif untuk meredam lonjakan harga dalam jangka pendek.

"Sangat efektif sebagai instrumen intervensi jangka pendek untuk meredam lonjakan harga dan kepanikan pasar (panic buying). Evaluasi ke depan adalah memastikan pelaksanaannya lebih mendekati permukiman warga agar tepat sasaran bagi konsumen rumah tangga," jelasnya.

Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Tahun 2026, kebutuhan cabai rawit masyarakat Kota Madiun mencapai 617 ton per tahun atau sekitar 1,7 ton per hari. Sementara kebutuhan bawang merah mencapai 581 ton per tahun atau sekitar 1,6 ton per hari. Dengan kebutuhan yang cukup besar tersebut, stabilitas pasokan menjadi faktor penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali.

Danang pun mengimbau masyarakat untuk bijak berbelanja ketika harga komoditas pangan mengalami kenaikan.

"Masyarakat diimbau untuk selalu belanja bijak, membeli sesuai kebutuhan normal, dan tidak melakukan penimbunan. Selain itu, mari ikut menyukseskan gerakan menanam cabai mandiri di pekarangan rumah melalui program P2L demi memperkuat ketahanan pangan keluarga secara mandiri," pungkasnya.

(Dspp/rat/Madiuntoday)