Turut Madiun Carnival Kenakan Pakaian Belanda, Wali Kota Bagi Buah dan Air Sembari Sapa Warga
MADIUN – Wali Kota Madiun Maidi juga ambil bagian dalam gelaran Madiun Carnival 2023. Wali Kota Maidi bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Madiun, Yuni Setyawati Maidi turut dalam karnaval dengan mengendarai VW Safari. Orang nomor satu di Kota Pendekar itu juga tampil unik dengan pakaian ala kolonial. Wali kota tak hanya menyapa warga namun juga membagikan buah dan air kepada pengunjung.
Wali kota menyebut sengaja mengenakan pakaian ala kolonial karena ingin menghidupkan sejarah. Usut punya usut, pakaian yang dikenakan merupakan pakaian Wali Kota pertama Kota Madiun. Artinya, pakaian khas bangsawan Belanda 105 tahun yang lalu.
‘’Jadi 105 tahun yang lalu, Belanda membuka kita ini. Yang saya kenakan ini merupakan pakaian wali kota pada saat itu,’’ kata wali kota, Sabtu (24/6).
Wali kota berharap apa yang dikenakan tersebut bisa menjadi pengingat akan sejarah Kota Madiun. Selain itu, wali kota juga berharap dalam peringatan Hari Jadi ke-105 tersebut Kota Madiun bisa semakin maju dan berkembang. Peringatan tentu bukan sekedar seremonial. Namun, harus diikuti dengan langkah-langkah nyata. Hal itu diharapkan bisa semakin mewujudkan masyarakat Kota Madiun yang aman, nyaman, damai, dan sejahtera tentunya.
‘’Kota ini semakin lama usianya semakin tua. Usia boleh tua, tetapi penampilan harus muda. Harus selalu menghadirkan kreatifitas dan inovasi-inovasi,’’ ungkapnya.
Upaya wali kota menghidupkan kembali sejarah Kota Madiun dengan mengenakan pakaian wali kota pertama bukan tanpa alasan. Sebab, Wali Kota Maidi dinilai memiliki kesamaan dengan Wali Kota pertama Kota Madiun, Mr. K. A. Schotman. Menurut Andrik Suprianto, pegiat sejarah dan anggota Kompas Madya, ada banyak perubahan di era Wali Kota Maidi. Hal itu juga tersaji era Wali Kota Schotman.
Wali Kota Schotman adalah orang Belanda kelahiran Utrecht, 1878. Sama dengan Wali Kota Maidi, dia juga berlatar belakang seorang pengajar. Schotman merupakan sosok pekerja keras, sangat rajin, banyak ide dan inisiatif. Pada masa kepemimpinannya, berbagai infrastruktur pemerintahan dan publik dibangun. Di antaranya, Raadhuis atau balai kota.
Sehari setelah peresmian balai kota, Schotman kembali meresmikan pembangunan schouwburg atau gedung pertunjukan. Schouwburg yang kemudian dikenal dengan city theater atau dulunya Bioskop Lawu bisa dibilang paling megah di Jawa saat itu. Bahkan, gedung tersebut sempat menjadi saksi pementasan pertama wayang suluh di masa perjuangan kemerdekaan RI. Namun demikian, bangunan itu dirubuhkan dan diganti menjadi pusat perbelanjaan sekitar 1990-an. Selain itu, wali kota kali pertama itu juga banyak membangun akses jalan baru. Di antaranya sekarang menjadi Jalan Sulawesi dan Jalan Panglima Sudirman. (ws hendro/dspp/agi/madiuntoday)