Sepekan Jelang Imlek, Klenteng TITD Hwie Ing Kiong Gelar Tradisi Kimsin Untuk Penyucian Rupang Dewa




MADIUN - Perayaan Tahun Baru Imlek akan tiba sepekan lagi. Untuk itu, warga keturunan Tionghoa di Kota Madiun berkumpul di Klenteng TITD Hwie Ing Kiong untuk melaksanakan tradisi Kimsin. Yakni, ritual memandikan rupang dewa, Minggu (4/2).

Sesepuh Klenteng TITD Hwie Ing Kiong, Herman Tanaka menuturkan, pemilihan waktu sepekan jelang Imlek itu bukan tanpa alasan. Menurut kepercayaan warga Tionghoa, para waktu itu roh para dewa naik ke khayangan untuk melaporkan amal perbuatan manusia selama satu tahun terakhir kepada Raja Langit.

"Karena itu, rupang-rupangnya kosong. Maka kita bisa bersihkan. Sehingga, nanti setelah Imlek para dewa pulang, rupangnya sudah bersih," ujarnya.

Prosesi memandikan rupang bukan sekadar membersihkannya dari kotoran dan debu. Namun, di dalamnya terkandung makna yang sakral. Yakni, untuk menyambut tahun yang baru. Sehingga, manusia berusaha menjadi lebih baik lagi.

Karena itulah, prosesi menyucikan rupang dilaksanakan dengan perlakuan khusus. Yakni, dibersihkan menggunakan air hangat dan bunga. Selain itu, alat-alat yang digunakan seperti kuas dan lap, harus baru.

Tak hanya itu, mereka yang turut dalam ritual pembersihan rupang wajib mempersiapkan diri. Seperti, membuang pikiran buruk dan berniat untuk menjadi insan yang lebih baik. Selain itu, membersihkan diri dengan mandi dan keramas. Bahkan, ada yang menjadi vegetarian sebelum menjalani ritual Kimsin.

Total ada 22 altar di Klenteng TITD Hwie Ing Kiong yang berisi beberapa rupang. Proses pemandiannya dilaksanakan satu hari dan diikuti oleh warga keturunan Tionghoa di Kota Madiun.

Lebih lanjut, Herman mengungkapkan bahwa tahun ini warga Tionghoa mengharapkan nasib yang lebih baik. Sebab, tahun ini merupakan tahun naga.

"Dalam kepercayaan kami, naga sebagai bagian dari 12 shio merupakan shio yang terbaik dan didambakan. Maka, tentu kami memiliki harapan besar tahun ini," tandasnya. (Ney/irs/madiuntoday)