Bawa ‘Impact in One Step’ sebagai Gerakan Inspirasi, Gadis Asal Kota Madiun Ini Raih Mahkota Puteri Muslimah Jatim 2026
MADIUN - Sorot lampu panggung di Sky Ballroom malam itu terasa lebih hangat dari biasanya. Tepuk tangan bergemuruh ketika nama Nanda Primita Putri diumumkan sebagai juara. Di antara kilau mahkota dan senyum yang mengembang, ada rasa yang sulit ia sembunyikan: kaget, terharu, sekaligus bangga pada dirinya sendiri.
“Saya benar-benar tidak menyangka bisa berada di posisi ini,” ujarnya lirih, masih dengan mata berbinar.
Perempuan kelahiran Kota Madiun, 8 April 2003 itu tak pernah membayangkan langkah kecilnya mendaftar ajang Puteri Muslimah Jawa Timur akan membawanya sejauh ini. Mahasiswi semester 4 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya itu mengaku berangkat dengan penuh keraguan.
Sejak seleksi tahap pertama hingga tahap kedua, proses yang dijalaninya tidak mudah. Ketika dinyatakan lolos sebagai finalis, rasa syukur bercampur dengan ketidakpercayaan diri. “Saingannya sangat bagus-bagus sekali. Ada rasa minder, apalagi kami juga mendapat beberapa penugasan yang cukup menguras tenaga,” katanya.
Di tengah padatnya jadwal kuliah, ia harus membagi waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi masa karantina. Hari-harinya diisi dengan latihan, penyusunan materi advokasi, hingga persiapan mental. Rasa lelah kerap datang, bahkan sempat terlintas keinginan untuk menyerah. Namun, ia memilih bertahan.
“Motivasi utama saya adalah ingin memberikan inspirasi dan menebarkan manfaat bagi perempuan muslimah, khususnya di Jawa Timur. Saya juga ingin menambah pengetahuan dan pengalaman sebagai bekal di masa depan,” tuturnya.
Ajang yang diikuti Nanda diikuti 15 finalis dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur. Grand final digelar pada Minggu, 1 Maret 2026 di Sky Ballroom Fave Hotel Mex Tunjungan, Surabaya. Acara tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur, Arumi Bachsin, dan dihadiri sejumlah tamu undangan dari Disbudpar Provinsi Jatim, Kemenag Jatim, serta berbagai instansi lainnya.
Bagi Nanda, menjadi puteri muslimah di era sekarang bukan sekadar tentang gelar atau penampilan. Ada makna yang lebih dalam yang ia yakini.
“Menurut pandangan saya, menjadi puteri muslimah hari ini adalah tentang peran, pengaruh, dan tanggung jawab sosial. Bagaimana kita bisa membawa nilai-nilai kebaikan dan memberi dampak nyata bagi sekitar,” katanya mantap.
Selama masa karantina, para finalis menjalani berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pembekalan, pelatihan, hingga kompetisi bakat dan preliminary. Di sanalah, menurut Nanda, rasa kekeluargaan tumbuh begitu erat. Mereka saling mendoakan dan memberi dukungan satu sama lain.
“Justru di situ saya belajar banyak hal. Tentang disiplin waktu, tanggung jawab, dan bagaimana tetap menebarkan kebaikan meski sedang bersaing,” ujarnya.
Dalam ajang tersebut, Nanda membawa advokasi bertajuk Impact in One Step. Sebuah platform digital yang memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk menebarkan inspirasi, menumbuhkan rasa percaya diri, sekaligus membantu perempuan Jawa Timur menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.
Baginya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Satu langkah kecil pun bisa menjadi awal dari dampak yang luas. Di akhir perbincangan, Nanda menyampaikan pesan sederhana namun kuat bagi perempuan muda yang masih ragu melangkah.
“Jangan pernah merasa terlalu kecil untuk bermimpi besar. Mimpi tidak menunggu kamu sempurna. Mimpi menunggu kamu berani,” pungkasnya.
(Dspp/kus/madiuntoday)