Angka Stunting Kota Madiun Turun, Kadinkes: Kalau By Name By Address Hanya 4,5 Persen
MADIUN – Upaya Pemerintah Kota Madiun menurunkan angka stunting berbuah manis. Berdasar pendataan secara by name by address dari bulan timbang di Posyandu hanya sebesar 4,5 persen. Data tersebut turun drastis dari pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilakukan pemerintah pusat pada 2023 lalu yang sebesar 12,8 persen.
‘’Memang metode survei yang dilakukan pemerintah pusat pada SKI 2023 lalu hanya berdasar sampling dan mengacu berdasar domisili bukan administrasi. Sedang, pendataan yang kita lakukan secara by name by address,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan KB Kota Madiun, dr Denik Wuryani, Jumat (25/10).
Denik menjelaskan dari sekitar 9 ribu anak di Kota Madiun yang disurvei hanya 182 anak di antaranya. Pun, survei tidak mengacu secara administrasi. Artinya, anak yang bukan warga Kota Madiun tetapi berada di Kota Madiun saat dilakukan survei juga masuk itungan. Tak heran, jika hasil survei menunjukkan angka stunting yang cukup tinggi. Padahal, setelah dilakukan pendataan di Posyandu, angka stunting di Kota Pendekar tak lebih dari lima persen.
‘’Tentu saja data yang dihimpun dari Posyandu yang lebih akurat. Karena yang kita lakukan pendataan hanya anak-anak warga Kota Madiun saja,’’ ungkapnya.
Meski begitu, upaya pencegahan juga terus digencarkan. Bahkan, penanganan stunting dilakukan secara lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) saat ini. Pemerintah Kota Madiun membentuk Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS) yang diketuai Sekda Kota Madiun, Soeko Dwi Handiarto. Tim ini secara keroyokan melakukan penanganan stunting sesuai dengan tupoksi masing-masing.
‘’Jadi untuk stunting sudah kita identifikasi berdasar faktor penyebabnya. Misalnya ditemukan adanya faktor lingkungan tempat tinggal, maka dari Dinas Perkim ikut turun. Ada juga kasus karena pola asuh orang tua, maka Dinsos juga ikut menangani,’’ jelasnya. (rams/agi/madiuntoday)