Jemaat TITD Hwie Ing Kiong Kota Madiun Gelar Tradisi Kimsin




Tak Sekadar Penyucian Rupang Dewa, Tapi Juga Simbol Pembersihan Jiwa

MADIUN - Perayaan Tahun Baru Imlek akan segera tiba. Menyambut momen tersebut, warga keturunan Tionghoa di Kota Madiun berkumpul di Klenteng TITD Hwie Ing Kiong untuk melaksanakan tradisi Kimsin. Yakni, ritual memandikan rupang dewa, Minggu (26/1).

Ketua Sie Keagamaan sekaligus Wakil Humas I TITD Hwie Ing Kiong Madiun Martino Liem menuturkan, ada 22 rupang yang dibersihkan. Sebelum penyucian dimulai, para warga melakukan ritual meminta izin kepada dewa. Setelah energi pada dewa naik ke khayangan, baru prosesi pembersihan dapat dilakukan.

"Setelah itu kami bersihkan. Biasanya butuh waktu 2 hari," ujarnya.

Prosesi memandikan rupang bukan sekadar membersihkannya dari kotoran dan debu. Namun, di dalamnya terkandung makna yang sakral. Yakni, untuk menyambut tahun yang baru. Sehingga, manusia berusaha menjadi insan lebih baik lagi.

Karena itulah, prosesi menyucikan rupang dilaksanakan dengan perlakuan khusus. Yakni, dibersihkan menggunakan air hangat dan bunga. Selain itu, alat-alat yang digunakan seperti kuas dan lap, harus baru.

Tak hanya itu, mereka yang turut dalam ritual pembersihan rupang wajib mempersiapkan diri. Seperti, membuang pikiran buruk dan berniat untuk menjadi insan yang lebih baik. Selain itu, membersihkan diri dengan mandi dan keramas. Bahkan, ada yang menjadi vegetarian sebelum menjalani ritual Kimsin.

Martino pun menambahkan bahwa ibadah Imlek akan dilakukan pada 28 Januari pada pukul 22.00. Serta, diikuti lebih dari 100 warga Tionghoa di Kota Madiun.

Lebih lanjut, Martino berharap di tahun Ular dengan unsur Kayu ini bisa membawa perubahan yang lebih baik bagi alam semesta.

"Ular adalah simbol transformasi dan kayu itu bertumbuh. Harapannya, tahun ini menjadikan kita bertransformasi ke arah yang lebih baik lagi dan menjadi insan yang bertumbuh, semakin mengenal pribadi kita lebih dalam," tandasnya. (WS Hendro/irs/madiuntoday)