Gen Z dan Tren Deinfluencing: Melawan Budaya Konsumtif demi Keuangan yang Sehat




MADIUN - Di era digital, media sosial menjadi ajang promosi berbagai produk yang kerap memicu belanja impulsif. Namun, Generasi Z kini mulai mengadopsi tren baru bernama deinfluencing, sebuah gerakan yang mendorong pola konsumsi lebih bijak dengan menolak godaan tren yang tidak perlu.

Gerakan deinfluencing ini semakin populer di platform seperti TikTok dan Instagram, di mana para kreator konten menggunakan tagar #deinfluencing untuk mengulas produk yang dinilai kurang efektif atau berlebihan. Mereka mengajak audiens untuk berpikir dua kali sebelum membeli barang mahal yang mungkin hanya didorong oleh tren semata.

Gerakan ini tak hanya mengubah cara Gen Z berbelanja, tetapi juga meningkatkan kesadaran mereka terhadap pengelolaan keuangan. Beberapa manfaat utama deinfluencing meliputi

Mengurangi FOMO (Fear of Missing Out) Dengan deinfluencing, Gen Z lebih mampu menahan diri dari tekanan sosial untuk selalu mengikuti tren mahal dan fokus pada kebutuhan nyata.

Mendukung Gaya Hidup Minimalis
Gerakan ini mendorong pemikiran ulang sebelum membeli barang, sehingga hanya memilih yang benar-benar berguna dan mengurangi konsumsi berlebihan.

Meningkatkan Literasi Keuangan
Kesadaran akan dampak belanja impulsif membuat banyak anak muda mulai belajar tentang anggaran, tabungan, dan investasi untuk masa depan.

Mendorong Konsumsi Berkelanjutan
Selain menghemat pengeluaran, deinfluencing juga mendorong konsumsi produk lokal dan ramah lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap isu sosial dan ekologi.

Dengan meningkatnya kesadaran ini, deinfluencing bukan sekadar tren, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sehat secara finansial dan berkelanjutan.
(Rams/kus/madiuntoday)