Cegah Wabah Meluas, DKPP Intensifkan Vaksinasi PMK Untuk Hewan Ternak




MADIUN - Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) telah ditetapkan sebagai Keadaan Darurat Bencana Non Alam oleh Pemprov Jawa Timur sejak akhir Januari lalu. Untuk itu, berbagai langkah antisipasi dilakukan agar memutuskan penyebaran penyakit. Tak terkecuali, di Kota Madiun.

"Sampai saat ini ada 8 kasus. 6 sapi dan 2 kambing. Untuk sapi ada 1 yang disembelih dengan mempertimbangkan ekonomis peternak dan 1 kambing mati. Lainnya sudah sembuh dan ada yang masih dalam proses penyembuhan," ujar Kabid Pertanian DKPP Kota Madiun, Wahyu Niken Febrianti, Rabu (5/2).

Menurut Niken, upaya vaksinasi terus dilakukan. Bahkan, sejak minggu lalu DKPP telah menyelesaikan penyuntikan sesuai dosis yang disediakan pemerintah pusat. Yakni, 300 dosis vaksin untuk sapi dan kambing.

Adapun rinciannya, untuk vaksin pertama telah diberikan pada 20 ekor sapi, 145 ekor kambing, dan 64 ekor domba. Kemudian, yang sudah menerima vaksin kedua ada 22 ekor sapi, 78 ekor kambing, dan 4 ekor domba.

Selanjutnya, hewan yang telah menerima vaksinasi hingga tahap booster ada 48 ekor sapi, 107 ekor kambing, dan 14 ekor domba.

"Untuk penyuntikan booster kedua belum. Kami fokuskan mengejar vaksinasi untuk hewan yang belum vaksin dulu," terangnya.

Lebih lanjut, Niken mengungkapkan, ada lebih dari 800 ekor sapi dan 1.200 ekor kambing yang ada di Kota Madiun. Namun, jumlah itu dinamis karena ada sebagian yang disembelih atau laku dijual dan dibawa ke daerah lain. Meski demikian, DKPP memberikan tanda khusus bagi hewan ternak yang sudah disuntik vaksin agar prosesnya dapat dilanjutkan oleh daerah penerima.

Hingga saat ini, DKPP masih menunggu distribusi vaksin PMK dari pemerintah pusat. Sembari berkomunikasi, memberikan informasi, dan edukasi kepada peternak terkait upaya pencegahan PMK.

"Tidak seperti beberapa tahun lalu, sekarang peternak sudah lebih siap menghadapi PMK. Bahkan, mereka melakukan upaya pencegahan dini sebelum kami memberikan vaksin. Misalnya dengan memberikan jamu untuk ternak. Masyarakat juga sudah lebih melek PMK. Sehingga, wabah kali ini tidak sampai mengurangi angka konsumsi daging masyarakat," tandasnya. (Dspp/irs/madiuntoday)