Cegah Kanker Payudara Sebelum Terlambat, Pakar Ajak Masyarakat Terapkan Pola Hidup Sehat
MADIUN - Kanker payudara terbentuk ketika sel-sel di dalam payudara berkembang secara abnormal dan tidak terkendali.
Menurut data Kementerian Kesehatan, kanker payudara merupakan salah satu jenis penyakit yang paling banyak terjadi di Indonesia. Bahkan, penyakit ini menjadi salah satu penyumbang kematian akibat kanker terbanyak pada populasi wanita. Itulah sebabnya, kesadaran akan pencegahan kanker payudara perlu ditingkatkan.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi, dr Donny Prayono, Sp.B., Subsp. Onk (K), hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab kanker payudara. Namun, sejumlah faktor resiko dapat menyebabkan kanker payudara, antara lain faktor genetik.
"Penyebab kanker payudara salah satunya berasal dari faktor genetik. Yakni, jika ada anggota keluarga yang menderita penyakit tersebut. Misalnya, ibu, nenek, atau saudara perempuan lainnya yang pernah mengalami penyakit ini," ujarnya saat ditemui setelah mengisi seminar World Cancer Day di RS Hermina Kota Madiun, Jumat (21/2).
Selain itu, faktor lainnya yang beresiko menyebabkan kanker payudara seperti radiasi, kelainan payudara lain (khususnya pasca operasi), terpapar asap/merokok, serta kurang olahraga.
"Faktor pemberat yang paling besar adalah perempuan yang sudah menikah namun tidak punya anak. Atau, bahkan yang tidak menikah," imbuhnya.
Untuk itu, dr. Donny mengimbau masyarakat, terutama perempuan, untuk meningkatkan kesadaran dengan deteksi dini kanker payudara. Cara paling mudah adalah dengan SADARI. Atau, pemeriksaan payudara sendiri. Caranya, berdiri tegak di depan cermin. Lalu, perhatikan bentuk, ukuran, dan warna payudara. Selanjutnya,
Angkat kedua tangan ke atas, lalu periksa kembali apakah ada perubahan.
Kemudian, tekan kedua tangan ke pinggang dan dorong ke depan untuk melihat apakah ada perubahan pada kulit payudara. Angkat satu tangan ke atas, lalu raba seluruh bagian payudara dengan gerakan melingkar.
Adapun gejala awal kanker payudara yang dapat dideteksi secara mandiri antara lain, jika terjadi perubahan bentuk atau ukuran payudara. Kulit yang berlesung, kemerahan, atau keluarnya cairan tak normal dari puting. Juga, nyeri pada salah satu atau kedua payudara. Terdapat benjolan tanpa rasa sakit di payudara atau ketiak. Serta, payudara teriritasi atau gatal.
dr. Donny menjelaskan bahwa saat ini terdapat enam cara pengobatan kanker payudara. Yaitu, operasi dengan mengangkat sebagian atau seluruh bagian payudara. Kemudian, kemoterapi, radioterapi, imunoterapi, formunal terapi, dan targetting therapy.
"Tingkat kesembuhan dari pengobatan bisa semakin tinggi jika kanker terdeteksi sejak dini," jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Donny pun mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan agar tidak terserang kanker payudara. Yakni, dengan menerapkan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, menghindari bahan karsinogen, olahraga rutin, serta tidak/menghindari rokok dan alkohol.
"Karena kanker payudara tidak ada langkah pencegahan seperti vaksinasi. Maka diperlukan upaya-upaya pencegahan secara mandiri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Juga, meningkatkan kesadaran pemeriksaan sejak dini untuk meningkatkan angka harapan hidup," tandasnya. (Rams/irs/madiuntoday)